Jumat, 27 Februari 2009

Tubuh yang wangi

Salam Sirnagalih,

Pengalaman ini berawal dari sebuah kejadian yang 'aneh' (menurut
saya, lho) pada saat saya mengobati seorang pasien di rumahnya.
Kebetulan rumahnya tidak begitu bagus, berada di pinggir selokan
sehingga banyak sekali nyamuk 'nakal' nya. Kebetulan waktu itu
mendekati senja, sehingga para nyamuk rame mencari mangsa. Banyak
sekali nyamuk yang beterbangan dan mengelilingi kami berdua sepanjang
prosesi pengobatan itu.

Kondisi saya waktu itu baru lepas dari kantor, masih berpakaian
kantoran. Lagipula, saya baru pertama kali mengunjungi dia, sehingga
saya sama sekali tidak punya persiapan untuk menghadapi para nyamuk
itu.

Karena saya mencurahkan seluruh kesadaran saya pada prosesi
pengobatan maka saya terpaksa untuk tidak mempedulikan nyamuk -
nyamuk itu. Anehnya, sampai dengan selesainya prosesi pengobatan itu,
tidak ada seekor nyamuk pun yang menyentuh saya, sementara si pasien
mendapatkan serangan bertubi - tubi dari para nyamuk sehingga tangan
dan kakinya penuh dengan bentol - bentol merah akibat serangan para
nyamuk itu.

Bagi saya, kejadian ini menjadi sebuah misteri. Misteri ini terus
menempel dalam ingatan saya sampai akhirnya seorang teman
menceritakan sesuatu kepada saya tentang wangi yang terpancar dari
diri saya. Awalnya, dia bertanya ke saya apakah saya sering
menggunakan dupa. Saya memang punya hio (dupa China) aromaterapi di
meja saya, yang saya beli di toko Valu$ (serba 5000). Tapi, hio itu
sudah lama tidak saya bakar.

Lalu, saya juga tidak suka menggunakan wangi - wangian. Menggunakan
wangi - wangian sekali setahun pun sudah merupakan kejadian luar
biasa bagi saya. Mencuci baju pun tidak menggunakan wangi - wangian
untuk baju. Menyimpan baju di lemari pun, yang saya gunakan cuma
kapur barus biasa. Jadi, praktis saya sama sekali tidak bersinggungan
dengan wangi dupa, setidaknya dalam kurun waktu 1 bulan sebelum teman
itu bertanya.

Dengan guyon, saya sanggah pertanyaan teman itu: "Akh, cuma perasaan
kamu saja kali ..?" Dia pun langsung menyanggah balik: "Banyak teman
lain yang juga merasakannya, koq..", begitu katanya dengan raut wajah
yang kelihatan serius.

Langsung saya teringat dengan cerita Guru bahwa "sehabis puasa dan
ngebleng, tubuh kita akan wangi". Kebetulan, kejadian nyamuk di atas
terjadi 2 hari setelah saya selesai melakukan ngebleng Agustus
kemaren. Mungkin wangi dupa itulah yang membuat nyamuk - nyamuk itu
enggan menyentuh saya. Dan, kalau memang benar wangi itu tidak datang
dari luar tubuh saya, berarti wangi itu terpancar dari dalam tubuh
saya yang baru saja menyelesaikan puasa dan ngebleng di RSS Tulodong.

Sayapun teringat dengan pesan Guru bahwa "Kita sendiri mungkin tidak
merasakan perubahan pada diri kita, tapi orang lain akan merasakan
perubahan itu".

Salam,
Antonius Suryajaya