Jumat, 27 Februari 2009

Sakit Pikiran

Salam Sirnagalih,

Beraneka tipe pasien sudah saya tangani. Ada pasien yang mendapatkan
manfaat dari prosesi pengobatan yang saya lakukan dan ada juga yang
sama sekali tidak mendapatkan manfaatnya. Ada pasien yang langsung
merasakan manfaat nya dan ada yang merasakan manfaatnya setelah
pengobatan berlangsung selama beberapa bulan.

Salah satu kasus pasien yang langsung merasakan manfaat pengobatan
adalah seorang ibu tua yang sudah tidak bisa diobati secara medis.
Dokter hanya berkata: "Yaaa ... kita berdoa saja, bu. Mudah - mudahan
bisa sembuh", karena dokter pun sudah menyerah, tidak tahu harus
bagaimana lagi. Setelah saya obati, lengkap dengan berbagai wejangan
dan bekal air pengobatan yang sudah saya buatkan, tidak sampai
seminggu kemudian saya mendapat kabar bahwa dia sekarang sudah merasa
segar dan bisa beraktifitas kembali. Dan dia minta bekal air
pengobatan lagi. [Yaaa ... ujung nya selalu nggak enak]

Ada juga kasus pasien yang sama sekali tidak mendapatkan manfaat
pengobatan yang saya berikan. Pasien ini sudah berobat ke mana -
mana. Berbagai dokter sudah ditemuinya. Dia juga sudah berobat ke
Singapore. Tapi, penyakitnya bukannya sembuh malahan bertambah parah.
Dia sendiri merasa dirinya penuh dengan penyakit. Mulai dari maag,
lever, ginjal, sampai ke parkinson segala. Pokoknya persis deh
seperti yang diomongin oleh Guru: "Masih hidup saja sudah seperti di
neraka".

Menurut dia, dokter sudah tidak tahu dia itu sakit apa. Ke dokter
yang satu, penyakit nya dibilang "A'. Ke dokter yang lain,
penyakitnya menjadi "B". Ke dokter yang lain lagi, penyakitnya "C".
Pokoknya, nggak jelas deh ...

Lalu, seperti biasa, saya melakukan prosesi pengobatan di bawah
panduan Kesadaran Tinggi. Selesai prosesi pengobatan, seperti biasa,
wejangan saya bertema 'semua penyakitnya berawal dari pikiran'.
Saudara - saudaranya juga memperkuat tema saya dengan berbagai
pengalaman mereka atas si pasien. Akhir cerita, si pasien mengaku
merasa lebih tenang dan lebih segar.

Beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji kita untuk melanjutkan
pengobatan, si pasien menyampaikan pesan lewat saudara dia yang juga
merupakan teman kantor saya. Singkat cerita, semua wejangan saya
telah berubah menjadi ketakutan bagi dirinya. Dia yang pada saat itu
mengaku telah menjadi lebih segar dan lebih tenang, rupanya di
rumahnya berubah menjadi sumber ketakutan baru bagi dirinya, yang
akhirnya membuat dia menolak untuk melanjutkan pengobatan.

Mendapatkan kenyataan itu, saya teringat dengan kata salah seorang
dokter yang pernah mengobati dia (berdasarkan cerita saudaranya) yang
mengatakan bahwa si pasien ini sakit secara sugestif. Jadi, tidak
salah kalau wejangan saya berjudul 'semua penyakitnya berasal dari
pikiran'. Selama dia tidak bisa mengendalikan pikirannya, selama itu
pula dia akan tersiksa oleh rasa sakit yang tidak ada habis -
habisnya.

Salam,
Antonius Suryajaya