Jumat, 27 Februari 2009

Menyayangi dan Mencintai

Salam Sirnagalih,

Apa tujuan kehidupan ini? Apa yang harus kita capai dalam kehidupan
ini? Ke mana arah kehidupan ini? Itulah kira-kira pertanyaan yang
muncul dalam pikiran saya bertahun-tahun sebelum saya mengenal
Sirnagalih. Ketika itu, saya masih berada di kampung halaman saya, di
Padang.

Saya memperhatikan kehidupan banyak orang termasuk kakek saya yang
ketika itu masih hidup. Saya perhatikan beliau setiap subuh sudah
bangun, lalu begitu matahari terbit, beliau sudah mengayuh sepedanya
menuju tempat kerjanya yang berjarak lebih dari 5 kilometer dari
rumah. Lalu, ketika matahari hampir terbenam, beliau kembali ke rumah.
Dari Senin sampai Sabtu, beliau rutin melakukan hal itu. Di hari
Minggu, beliau merawat sepedanya, lalu duduk di teras rumahnya
menikmati rokok nipahnya sambil sesekali bermain dengan cucu-cucunya.

Itulah kakekku. Lain lagi dengan nenekku, lain pula dengan ayahku, dan
lain lagi dengan para tetanggaku. Sangat sulit bagi saya untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan di atas: "Apa tujuan kehidupan
ini?". Apa yang saya perhatikan dari sekeliling saya hanyalah
rutinitas kehidupan. Anak-anak bersekolah, remaja juga masih
bersekolah. Yang lebih dewasa bekerja di kantor. Setelah itu, menikah
lalu punya anak. Ada tetangga yang punya perusahaan sendiri dengan
merek dagang Surya Mas. Setelah itu, semuanya meninggalkan dunia.

Kata agama, semua orang yang meninggal akan masuk surga untuk
selamanya. Lalu, saya mencoba merasakan bagaimana yang namanya
'selamanya' itu.

10 tahun ? Masih belum.
100 tahun ? Masih belum juga.
Lalu, 1000 tahun ? Juuaaauuuuh lebih lama lagi.
100ribu tahun ? Masih lebih lama lagi.
1juta tahun ? Wah, lama sekali, tapi masih lebih lama lagi.
10juta tahun ? Akh, cape deh .., tapi masih jauh lebih lama lagi.

Jadi, yang disebut 'selamanya' itu sungguh luar biasa terlalu amat
sangat lama sekali.

Saya jadi bertanya lagi, untuk apa Sang Pencipta menciptakan manusia
hanya untuk berdiam di surga sampai sebegitu lamanya ? Kalau sehari
saja ada 1 manusia meninggal dan masuk surga, maka dalam 10juta tahun
saja sudah ada 3milyar manusia di surga. Waduh, surga itu pasti sumpek
dan berdesak-desakan seperti ikan sarden.

Jadi, apa tujuannya Sang Pencipta menciptakan manusia kalau cuma akan
dijadikan ikan sarden ?

[Hehehe ... itu jalan pikiran waktu remaja dulu, lho. Sekarang kan
sudah belajar di Sirnagalih. Sudah beda jalan pikirannya. Tapi, ini
cerita jaman baheula, jaman dulu.]

Ketika itu, saya sempat bertanya kepada ibu saya. Saya masih ingat
benar, ketika itu saya mengajukan pertanyaannya di samping sumur di
rumahku di kampung. "Ma, sebenarnya untuk apa sih kita hidup?". Ibu
saya bengong sebentar, lalu dia berkata: "Akh, kamu masih anak-anak,
belom tau diampek". [Ampek itu bahasa Padang artinya 4.]

Cuma begitu jawabannya. Bingung, kan ..?

Nah, itu cerita dulu. Sekarang ceritanya lain, karena sudah dapat
banyak pencerahan di Sirnagalih, terutama dari Guru [begitu sebutan
beliau dulunya. Sekarang beliau sudah bergelar Gusti Pangeran Yang
Mulia Maha Guru]. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak pencerahan
tentang kehidupan, termasuk jawaban atas pertanyaan tersebut di atas.
Jawaban yang paling lengkap atas pertanyaan di atas, saya dapatkan
ketika mengikuti acara LQ tahun 2003. Itulah acara LQ pertama yang
saya ikuti.

Ketika turunnya energi LQ menyirami saya, ada 3 pencerahan yang saya
dapatkan. Salah satunya merupakan jawaban atas pertanyaan di atas.
Isinya kira-kira begini: "Alam semesta diciptakan karena RR,
diciptakan dengan RR, lalu alam semesta diisi dengan RR, lalu
dipelihara dengan RR, dan alam semesta dihidupi dengan RR. Pada
saatnya nanti, alam semesta dihancurkan juga karena RR dan dengan RR."
[Benar nggak ya, alam semesta akan dihancurkan. Akh, EGP aja deh,
pokoknya begitulah yang saya dapatkan, jadi saya ceritakan begitu]

Jadi, sebenarnya yang ada di alam semesta itu cuma RR doang, sehingga
tujuan hidup manusia pun sebenarnya adalah RR. Maka, dengan pencerahan
itu, menjadi jelaslah bagi saya semua hal yang saya perhatikan selama
ini. Kakek saya menjalani kehidupan seperti cerita di atas karena dia
menyayangi dan mencintai. Dia mencintai pekerjaannya sehingga dia rela
bersepeda jauh pada usia yang sudah melewati 60 tahun. Dia mencintai
keluarganya sehingga dia terus berjuang untuk menafkahi mereka. Dia
mencintai sepedanya sehingga dia merawatnya dengan baik. Dia mencintai
cucu-cucunya sehingga dia meluangkan waktu untuk mereka. Dan
seterusnya dan selanjutnya....

Demikian juga dengan nenek saya, ayah saya, para tetangga saya,
semuanya mempunyai sesuatu yang disayangi dan dicintainya. Jadi,
tujuan kehidupan ini sebenarnya adalah menyayangi dan mencintai.
Itulah yang diwujudkan oleh manusia, baik secara sadar maupun tidak
sadar, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Tapi, kenapa ada sebagian orang yang begitu menjengkelkan karena
sering bertingkah laku dan memperlihatkan sikap yang kurang
menyenangkan? Percayalah, sebenarnya diapun ingin mewujudkan kasih
sayang dan cinta kasih, tapi dengan cara yang tidak kita harapkan.
Karena tidak sesuai dengan harapan kita, maka kita merasa kurang
nyaman dengan tingkah laku dan sikap dia.

Sudah akh, sampai di sini dulu saja ceritanya, ya ... Pegel nih.

Eh ... entar dulu, ada pembaca yang nyeletuk tuh, "Jadi, kalau si
Anton judes dan ketus sama pembaca, itu juga wujud dari kasih sayang
dan cinta kasihnya sama pembaca". Hehehe ... iya kali yeh ...

Salam,
Antonius Suryajaya