Salam Sirnagalih,
Membaca cerita mas Cakra, saya jadi ingat pengalaman saat melakukan
puasa mutih 2 tahun yang lalu. Waktu itu, kita puasa masih sendiri -
sendiri, belum ramai - ramai seperti sekarang. Guru menyusunkan
jadwal puasa untuk semua peserta, sesuai dengan hari lahir nya masing-
masing. Pas jadwal saya keluar, aduh mak ..., pas jatuh pada hari
pernikahan adik kandung saya sendiri. Mau ditukar dengan teman yang
hari lahirnya sama, tetap saja melewati hari pernikahan adik saya.
Akhirnya, yaa ... jalanin saja. Pas pesta pernikahan nya, saya tetap
musti duduk di meja keluarga, dan tetap harus ambil makanan. Tapi,
saya cuma bisa makan nasi putihnya doang, tidak boleh kena bumbu
apapun. Sisanya ... saya suapkan ke anak saya. Begitulah terus ...
yang jadi sasaran cuma anak saya.
Demikianlah akhirnya puasa saya genap 21 hari. Selama 21 hari itu,
jangankan makanan (super) enak ... tempe goreng saja sudah membuat
air liur menetes karena saking pengennya dan ditambah dengan rasa
jenuh kita dengan makanan yang itu - itu saja, tanpa bumbu dan tanpa
variasi.
Lalu, bagaimana saya bisa bertahan dengan godaan yang begitu
kuat ..? Yaa .. tidak lain dan tidak bukan adalah karena niat dan
tekat. Niat yang (cukup) kuat membuat saya tidak punya pilihan lain
selain melewatinya.
Tentang niat puasa ini juga telah dibuktikan oleh istri saya sendiri.
Pada puasa yang sekarang ini, dia bilang ke saya untuk ikutan.
Sebagai suami, yaa .. saya dukung dong. Karena kesibukan saya, saya
tidak bisa memantau puasa dia, sampai hari Minggu kemaren dia cerita
ke saya bahwa dia sudah 'buka'. Dia puasa selama 1 minggu. Selama 1
minggu itu, dia tidak mengalami masalah apa - apa. Sakit maag nya
juga tidak kambuh. Pokoknya, semua berjalan dengan lancar. Tapi,
karena tidak tahan kalau hanya makan buah saja, akhirnya dia 'buka'.
Dia makan nasi seperti biasa lagi.
Besoknya, dia pengen puasa lagi untuk meneruskan puasanya yang
terputus. Dia mulai selepas magrib, hanya makan buah saja. Tapi,
untuk sekali ini, dia hanya tahan 24 jam saja, karena badannya lemes,
kepala pusing dan sakit maag nya kambuh lagi. Dan, puasanya pun batal
total.
Begitulah kalau melakukan puasa dengan niat setengah hati.
Salam,
Antonius Suryajaya