Salam Sirnagalih,
Selasa malam kemaren, untuk kesekian kalinya para anggota Sirnagalih
diberi kesempatan oleh Guru untuk bermeditasi di kolam renang Guru di
desa Sirnagalih - Megamendung. Bagi yang sudah pernah naik, mereka
sudah mengenal rasa air kolam itu, terutama rasa dinginnya. Bagi yang
belum pernah, dia cuma tahu dinginnya dari cerita orang lain dan
mencoba menduga - duga seberapa dinginnya air kolam itu, sehingga
muncul banyak teori untuk mengatasi rasa dingin itu.
Sewaktu pertama kali saya mencoba nya, saya juga mencoba
mempraktekkan berbagai teori yang sudah saya kenal, khususnya teknik
visualisasi api unggun yang pernah saya praktekkan untuk berkeringat
di puncak gunung Merapi di kampung saya (Sumatera Barat). Nyatanya,
tetap saja tubuh saya gemetaran.
Guru sendiri selalu memberikan afirmasi kepada para peserta yang
sedang berendam: "Air adalah aku, aku adalah air ...". Afirmasinya
sih gampang, tapi bagaimana melakukannya supaya tubuh tidak menggigil
lagi ..? Ternyata, tidak segampang afirmasinya. Saya belum menemukan
maknanya, sehingga afirmasi itu tidak dapat mengatasi rasa dingin nya
air.
Tapi, pada Selasa malam kemaren, sepertinya saya sudah menemukan
makna afirmasi Guru itu: "Air adalah aku dan aku adalah air",
sehingga sepanjang lebih dari setengah sesi berendam itu, tubuh saya
sama sekali tidak menggigil. Tubuh saya memang kedinginan, tapi sama
sekali tidak menggigil, tenang ibarat tonggak ditancapkan di dalam
kolam itu.
Apa yang saya lakukan ..? (Pasti itulah pertanyaan yang muncul di
benak para pembaca). Semuanya saya awali dari kesadaran bahwa:
1. Air tidak akan membunuh saya. Jadi, saya tidak perlu takut dengan
air. Sebaliknya, air adalah sahabat saya. Saya harus menerima dia.
2. Air akan melakukan pembersihan pada diri saya. Pembersihan itu
akan maksimal kalau saya pasrah dan tidak melawannya.
3. Rasa dingin yang diberikan oleh air adalah bagian dari pembersihan
itu. Jadi, tidak perlu saya tolak atau saya lawan.
Dari kesadaran itu, maka saya biarkan rasa dingin itu menyelimuti
diri saya. Saya biarkan dia masuk ke dalam diri saya. Oleh karena
itu, rasa dinginnya masuk ke dalam sel - sel tubuh saya. Tubuh saya
terasa dingin. Tapi, anehnya, walaupun merasa dingin seperti itu,
tubuh saya sama sekali tidak menggigil.
Pernah muncul dalam pikiran saya: "kalau tubuh saya kedinginan, nanti
tubuh saya akan beku". Tanggapan itu langsung ditimpali oleh pikiran
lain: "air adalah sahabat, dia juga punya rahman rahim, dia tidak
akan membiarkan kamu celaka". Maka, tubuh saya kembali tenang.
Kondisi seperti itu saya pertahankan terus. Saya tetap bisa merasakan
energi bumi naik menggulung - gulung dan membuat tubuh saya sedikit
terangkat ke atas. Tapi, pada saat energi bulan masuk, saya bisa
merasakan masuknya, tapi tidak bisa merasakan dinginnya, karena tubuh
saya memang sudah dingin, diselimuti oleh dinginnya air kolam.
Ketenangan saya mulai terusik pada saat energi pengampunan dosa masuk
dan menyelimuti diri saya. Tubuh saya bergetar. Karena ada keinginan
untuk merasakan sensasi lain, perlahan - lahan ketenangan saya buyar
dan tubuh saya mulai menggigil kedinginan lagi. Menggigil terus
sampai acaranya diakhiri oleh Guru.
Demikianlah sekedar pengalaman saya. Semoga bermanfaat bagi yang lain.
Salam,
Antonius Suryajaya