Salam Sirnagalih,
Banyak pesan - pesan Guru yang sudah disampaikan kepada kita
(termasuk saya) sehubungan dengan relatif besar dan kuatnya energi
kita saat dibandingkan dengan tingkat energi kita sebelum bergabung
dengan Sirnagalih. Inti dari pesan - pesan itu antara lain :
1. Kita harus terus menerus menjaga kesadaran kita karena dengan
energi yang besar seperti ini, kalau kita salah menggunakannya maka
kita gampang sekali jatuh. Jatuh nya pun bukanlah jatuh yang empuk,
tapi jatuh terjerembab.
2. Energi besar sebanding dengan tanggung jawab yang besar. Emangnya
enak punya energi besar ...? Kepleset dikit saja bisa apes .. pes ..
pes ...
Berkali - kali terjadi pada saya, yang akhirnya menimbulkan
kesimpulan pada diri saya bahwa 'jatuh' itu terjadinya mudah sekali,
tapi setelah tersadar akan 'kejatuhan' itu, untuk bangkit bangun
kembali rasanya berat sekali. Ada sesuatu yang harus saya 'bayar'
untuk bisa naik kembali.
Kejadian yang kesekian kali terjadi kemaren, sewaktu lagi asyik
menyetir mobil di dalam perjalanan saya menuju rumah. Saat itu,
sebuah mobil berjalan perlahan di depan saya, menghalangi saya untuk
bisa cepat sampai ke rumah. Jalan yang saya lalui hanya cukup untuk 2
mobil dan dipakai untuk 2 jalur kendaraan, sehingga praktis agak
sulit untuk mendahului mobil di depan.
Ketika suatu saat saya punya kesempatan untuk mendahului, tiba - tiba
mobil itu bergerak ke tengah seperti berusaha menghalangi saya untuk
mendahuluinya. Saya kaget dan emosi pun terpancing untuk naik. Saya
semakin tidak sabar mengekor dia berjalan pelan - pelan. Maka, saya
tempelkan moncong mobil saya sedemikian dekatnya dengan buntut mobil
di depan dengan maksud memberi tanda kepada dia bahwa saya pengen dia
berjalan lebih cepat.
Tiba - tiba dia mengerem mobilnya. Kedua kalinya saya kaget, dan
emosi langsung naik. Begitu ada kesempatan mendahului, langsung saya
tancap gas. Begitu sampai di depan mobil itu, dengan sengaja saya
pepetkan mobil saya ke pinggir, sehingga dia berhenti mendadak. Lalu,
saya pergi.
[ Inilah tahap 'jatuh' nya. Proses 'jatuh' ini begitu mudah terjadi
dan sepertinya nikmat sekali untuk melayani nya. ]
Perbuatan saya itu langsung menciptakan peperangan di dalam hati
saya. Rupanya hati saya tidak bisa menerima perbuatan saya itu. Tidak
pada tempatnya saya melakukan hal seperti itu. Sebagai orang yang
sudah dibekali energi rahman rahim, perbuatan itu benar - benar
melukai diri saya. Maka, tersiksalah saya karena perbuatan saya itu.
[ Menurut saya, inilah proses 'pembayaran' hasil perbuatan saya.
Sangat bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan pada saat
melakukan perbuatan itu. Rasanya sangat tidak mengenakkan sekali. ]
Untuk bisa lepas dari siksaan itu, tidak ada jalan lain selain
melakukan pembersihan hati. Maka, saya pun melakukan pembersihan
hati, membersihkan diri dari emosi - emosi yang tidak bermanfaat
seperti itu. Sepanjang proses pembersihan inipun, rasanya sangat
tidak nyaman karena di dalam diri masih terjadi peperangan.
Berbeda dengan proses melakukan perbuatan jelek itu yang begitu
singkat, proses pembersihannya tidak bisa singkat. Butuh waktu yang
relatif lama, lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
perbuatan jelek nya.
Begitulah ceritanya, yang sekaligus membuktikan kebenaran dari pesan-
pesan Guru kepada kita semua. 'Jatuh' itu memang mudah dan (bisa
jadi) nikmat. Tapi, untuk bisa bangun kembali, butuh usaha yang cukup
besar dan juga tidak mudah.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Antonius Suryajaya