Senin, 23 Februari 2009

Kaya vs. Miskin

Membicarakan kaya dan miskin, kalau kita pakai teknik 4 kwadran, kita akan menemukan 4 kelompok manusia sebagai berikut:

Kaya tapi miskin
Pada masa sekarang, banyak orang masuk dalam kwadran ini. Dia memiliki deposito besar, rumah yang besar, dan sebagainya. Tapi hatinya tidak pernah puas. Dia masih gemar melakukan hal - hal yang kurang baik untuk kepentingan pribadi. Tangannya malas untuk memberi. Jadi, kalau diibaratkan, tangannya jauh lebih mudah untuk menadah daripada memberi. Itulah orang yang kaya secara fisik tapi miskin secara batin.

Miskin dan miskin
Sudah miskin secara fisik, miskin pula batinnya. Kasihaann deh, elu. Mending ke laut aja deh.

Miskin tapi kaya
Nah, ini juga salah satu penyakit orang jaman sekarang. Dia miskin secara fisik, tapi mengaku kaya secara batin. "Saya kaya di dalam batin", gitu kata dia. Tapi lihat kelakuan dia. Dia menyodorkan tangannya untuk meminta sesuatu. Meminta adalah perbuatan orang miskin. Orang seperti ini lebih cocok masuk dalam kwadran "miskin dan miskin". Orang yang sungguh layak masuk kwadran ini sangat langka di dunia ini. Saya pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Secara duniawi, dia sangat miskin. Tapi, ketika bertemu dengan beliau, beliau berjuang untuk memberikan apa yang dimilikinya supaya saya menerimanya. Bukan basa - basi, dia benar - benar gigih berjuang (bukan cuma berusaha) untuk memberi, padahal di mata orang awam dia justru pantas untuk diberi. Manusia seperti itu memang layak dimasukkan ke dalam kwadran ini.

Kaya dan kaya
Sepertinya tidak perlu diperjelas lagi siapa yang layak masuk ke dalam kwadran ini, yaitu orang yang bukan hanya kaya secara duniawi tapi juga kaya secara batin. Tangannya selalu dia gunakan untuk memberi dan memberi. Dengan demikian, dia akan menerima efek balik dari setiap pemberiannya seperti bola salju. Dia benar - benar bisa menerapkan prinsip bahwa dengan memberi dia tidak akan menjadi miskin malahan kekayaannya akan selalu bertambah.