Desember 2004, Aceh diterjang tsunami. Ratusan ribu orang meninggal dan hilang. Aceh berubah menjadi neraka. Kengerian terlihat di mana-mana. Kesengsaraan dan penderitaan menjadi pemandangan utama ketika itu.
Setahun kemudian, Aceh yang sudah puluhan tahun hidup dalam peperangan antara GAM dan RI, memulai hidup dalam perdamaian. GAM dan RI telah menandatangani kesepakatan damai. Semenjak saat itu sampai sekarang, sudah tidak ada berita perang di Aceh. Rakyatnya diberitakan telah hidup dalam perdamaian. Mereka mulai merasakan surga.
Ada yang bilang, seandainya Aceh tidak dilanda tsunami, mungkin tidak pernah ada damai di Aceh. Saya menterjemahkannya: kalau tidak melewati neraka tsunami, mungkin Aceh tidak akan menemukan surga.
Cerita di atas hanya satu contoh bukti bahwa surga memang ada di balik neraka. Ada banyak contoh nyata di sekeliling kita tentang hal itu. Setiap manusia akan mendapatkan kebahagiaannya setelah lepas dari penderitaan. Sepertinya, itulah jalan yang sudah digariskan untuk manusia.
Seorang anak yang dimanja dan terlindung ketat sejak kecil sehingga tidak mengalami sakit dan penderitaan apapun sejak kecil, ketika dia mencapai usia dewasa dan harus hidup mandiri, maka dia mengalami kegamangan mental seolah-olah tidak siap menghadapi kehidupan ini. Selama lebih dari 20 tahun dia tidak pernah mengalami stress, sekarang dia harus langsung menghadapi stress dengan kualitas yang tinggi. Dia tidak kuat dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Seorang anak yang lain juga mengalami hal yang serupa. Dia terlindung dan dimanja dengan harta melimpah. Dia tidak mengenal penderitaan apapun sepanjang masa kecil dan remajanya. Tapi, begitu dia melihat keluar istananya, dia melihat apa yang selama ini tidak dia lihat. Dia melihat penderitaan. Tapi, anak yang satu ini justru ingin merasakan penderitaan itu. Dia lari dari kungkungan keluarganya dan bergaul dengan penderitaan. Akhirnya, dia tumbuh menjadi seorang manusia kuat yang memperkenalkan nirwana kepada manusia lain. Diapun dikenal sampai ribuan tahun kemudian.
Orang bilang, Tuhan tahu apa yang dibutuhkan oleh manusia. Menurut saya, hal itu memang benar. Tuhan tahu apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kesempurnaannya. Tapi, manusia tidak mengerti apa yang dia butuhkan. Lebih parah lagi, banyak manusia yang tidak tahu tujuan hidupnya sendiri. Pikiran manusia sangat pendek. Dia hanya tahu apa yang dia inginkan, tapi dia tidak tahu apa yang dia butuhkan.
Tuhan memberikan neraka kepada manusia tapi manusia tidak menerimanya. Manusia justru menjauhi neraka dan mencibirkan orang yang sedang mengalami neraka. Tuhan memberikan neraka kepada manusia supaya manusia bisa belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik, lebih bijaksana, lebih dewasa. Neraka diberikan kepada manusia agar manusia bisa mengenal surga dan tahu jalan menuju ke surga itu.
Hanya sebagian manusia yang sadar bahwa surga hanya untuk orang yang dewasa hatinya, yang bijaksana, dan yang baik perilakunya. Manusia yang tidak belajar menjadi dewasa hatinya, yang tidak mencapai kebijaksanaan, yang belum baik perilakunya, sudah pasti tidak akan bisa mencapai surga.
Alangkah malangnya manusia yang diajarkan sejak kecil untuk takut kepada neraka. Mereka seperti seorang anak yang dimanja dan terlindung ketat sehingga mereka tidak bisa menjadi dewasa sebagai manusia. Akankah manusia yang seperti ini kuat ketika dia harus melihat kenyataan bahwa surga ada di balik neraka? Bahwa untuk mencapai surga dia harus melewati neraka terlebih dahulu?
Kamis, 02 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)