Manusia adalah fisik yang menyatu dengan roh dan roh yang menyatu dengan fisik. Ketika roh masih menyatu dengan fisik, maka manusia itu dikatakan hidup dan memiliki kehidupan. Ketika roh berpisah dari fisik, maka manusia itu kehilangan kehidupannya alias mati.
Kalau kita renungkan, fisik manusia itu muncul dari bumi, lalu dia tumbuh dan berkembang dari bumi, sampai akhirnya dia layu, mati, dan kembali ke bumi. Semua manusia akan mengalami hal yang sama. Tidak ada satupun yang menjalani hal yang berbeda.
Lalu, kalau kita renungkan aspek roh manusia, maka kita tahu bahwa roh itu berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Sang Maha Pencipta. Ada yang menyebut sumbernya itu sebagai Tuhan, ada yang menyebutnya Gusti, ada pula yang menyebutnya dengan God, dan berbagai macam sebutan lainnya, yang pada dasarnya mengacu pada satu hal yang sama. Bermacam - macam nama tapi mengacu ke satu objek yang sama.
Jadi, kalau kita renungkan dengan hati yang terbuka, maka kita akan mengerti bahwa semua manusia itu berasal dari satu sumber yang sama. Fisiknya sama-sama dari bumi dan rohnya sama-sama dari Sang Maha Pencipta.
Lalu, kenapa manusia mengenal perbedaan ..? Kenapa manusia saling membedakan satu sama lain ..? Bahkan mereka saling bermusuhan satu sama lain ..?
Ibarat sebatang pohon yang rindang, memiliki ribuan cabang dan puluhan ribu ranting. Pohon itu bertumbuh dari satu akar yang sama dengan satu pokok atau batang pohon yang sama. Dari batang pohon itu kemudian muncullah cabang. Dari cabang kemudian muncullah dahan, dan dari dahan muncullah ranting.
Ranting yang satu hanya mengenal ranting yang ada di sekitarnya saja tapi dia tidak mengenal ranting yang nun ada jauh di sana. Karena dia tidak mengenal ranting yang jauh, lalu dia merasa asing dengan ranting yang jauh itu. Rasa asing itu membuat dia senang mencari perbedaan antara dirinya dengan ranting yang lain. Kesenangan mencari perbedaan itu kemudian membuat dia lupa bahwa mereka sebenarnya berasal dari satu akar dan satu batang yang sama.
Maka, timbullah pengelompokan di antara para ranting. Hasilnya, perbedaan antara mereka semakin jelas. Warna mereka yang semula sama sekali tidak terlihat perbedaannya, sekarang mereka mulai membedakan warna kulit. Ukuran daunnya yang semula tidak menjadi masalah bagi mereka, sekarang menjadi salah satu perbedaan di antara mereka. Goyangan mereka yang semula juga tidak menjadi masalah bagi mereka, sekarang mereka jadikan sebagai perbedaan di antara mereka. Pokoknya, segala hal yang ada pada diri mereka, yang semula tidak menjadi masalah bagi mereka, sekarang menjadi salah satu sumber perbedaan di antara mereka.
Mereka benar - benar telah melupakan asal muasal mereka. Mereka lupa akan jati diri mereka. Pikiran mereka telah dipenuhi dengan perbedaan.
Begitulah manusia. Diciptakan dari yang satu, tunggal, dan esa, tapi kemudian saling membedakan satu sama lain. Alhasil, mereka lupa akan asal muasal mereka, mereka lupa akan jati diri mereka, dan mereka asyik dengan perbedaan yang mereka ciptakan sendiri.
Akan tetapi, kalau kita mau duduk merenung, mencari kembali jati diri kita yang sebenarnya, maka kita akan menemukan bahwa pada dasarnya semua manusia itu berasal dari satu sumber yang sama, satu akar yang sama, satu pokok yang sama, dan pada saatnya nanti ke sanalah kita semua akan kembali.
Pada akhirnya, tidak ada lagi kata 'kamu', 'dia', 'mereka', 'kalian'. Yang ada hanyalah kata 'kita'.
Ya benar, kita semua adalah satu, tunggal, dan esa adanya. Oleh karena itu, kita semua diajarkan untuk saling mengasihi satu sama lain. Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Karena pada dasarnya, sesamamu itu adalah dirimu juga karena semuanya berasal dari satu akar dan satu pokok yang sama.
Selasa, 14 Juli 2009
Jumat, 03 Juli 2009
Pengorbanan Seekor Macan
Salam Sirnagalih
Ada sebuah cerita yang sangat menyentuh, yang diceritakan di depan
kelas pada kelas pemantapan Selasa 15 Mei 2007. Sebuah cerita yang
sangat menyentuh perasaan, yang membuat badan bergetar hebat dan air
mata mengucur karena haru bercampur malu bercampur takjub bercampur
sedih bercampur ... bercampur ... (akh, pokoknya bercampur baur
deh).
Ini bukan cerita fiksi karena ini real story. Nama dan pemerannya
disamarkan untuk menghindari salah persepsi. Selamat menikmati.
----------------------------------------------------------
Alkisah, tersebutlah seorang calon pemimpin negeri mendapat tugas
dari seorang sesepuh bangsa untuk mendapatkan sebuah benda keramat
yang berupa kulit macan. Syaratnya, kulit macan itu harus diperolah
tanpa membunuh macan dan tanpa membeli. Kulit macan itu harus
diperoleh dari seekor macan yang rela diambil kulitnya untuk sang
calon pemimpin negeri.
Maka, tanpa diketahui asal dan penyebabnya, muncullah 27 ekor macan
memasuki sebuah perkampungan. Mereka tidak mengganggu, tidak
merusak,
dan tidak membunuh. Mereka datang dengan damai, masuk ke
perkampungan
manusia. Mereka telah siap menghadapi berbagai resiko ketika
berhadapan dengan manusia.
Macan itu bukan macan siluman, mereka benar - benar macan, macan
tulen. Mereka muncul untuk menyerahkan salah seorang dari mereka
untuk diambil kulitnya. Maka, mereka menyerahkan teman mereka kepada
pemimpin perkampungan. Lalu, mereka pulang dengan damai sambil
meninggalkan teman mereka untuk menjalani pembantaian.
Sampai di sini, air mata kami yang mendengarkan cerita ini sudah
mulai mengalir. Alangkah mulianya hati sang macan. Dia rela turun
gunung, meninggalkan keluarganya, meninggalkan kelompoknya, untuk
menyerahkan satu-satunya harta yang paling berharga baginya, yaitu
kulitnya yang belang itu.
Maka, dikulitilah sang macan. Dia tidak dibunuh dan tidak disakiti.
Dia dikuliti dalam keadaan hidup. Alangkah sakitnya, luar biasa
sakitnya. Kami yang mendengarkan cerita ini sama sekali tidak berani
membayangkan bagaimana sakitnya. Kulit dicubit saja sudah sakit
apalagi dikuliti. Aduuuuhhhhh Tuhan, tak terbayangkan sakitnya.
Sang macan hanya bisa mengkedipkan mata, mengucurkan air mata. Dia
tidak marah, dia tidak berteriak, dia tidak merintih. Dia pasrah,
dia
rela. Ambillah, ambillah untuk keselamatan manusia. Oooohhhh Tuhan,
alangkah mulianya dia.
Sekarang, sang macan masih hidup. Dia tidak lagi memiliki kulit.
Harta yang paling berharga bagi dirinya telah diambil. Sekarang dia
terbaring lemah di dalam sebuah kandang. Tubuhnya dibalut dengan
kapas dan dia diberi makan daging halus setiap hari. Dia dirawat
sampai kulitnya tumbuh kembali. Menurut cerita, kulitnya akan tumbuh
dalam waktu 7 bulan. Itupun kalau memang tumbuh.
Setiap hari, sang macan hanya bisa mengedipkan matanya, mengucurkan
air mata karena sakit, pedih, perih. Oooohhhhh Tuhan, adakah manusia
yang semulia hati sang macan ?
Sang calon pemimpin negeri pun mencucurkan air mata ketika
menceritakan cerita ini. Begitu mulia hati sang macan. Adakah
manusia
yang hatinya semulia ini ?
----------------------------------------------------------
Sudah akh, aku nggak tahan lagi. Cukup sampai di sini dulu.
Salam,
Antonius Suryajaya
Ada sebuah cerita yang sangat menyentuh, yang diceritakan di depan
kelas pada kelas pemantapan Selasa 15 Mei 2007. Sebuah cerita yang
sangat menyentuh perasaan, yang membuat badan bergetar hebat dan air
mata mengucur karena haru bercampur malu bercampur takjub bercampur
sedih bercampur ... bercampur ... (akh, pokoknya bercampur baur
deh).
Ini bukan cerita fiksi karena ini real story. Nama dan pemerannya
disamarkan untuk menghindari salah persepsi. Selamat menikmati.
----------------------------------------------------------
Alkisah, tersebutlah seorang calon pemimpin negeri mendapat tugas
dari seorang sesepuh bangsa untuk mendapatkan sebuah benda keramat
yang berupa kulit macan. Syaratnya, kulit macan itu harus diperolah
tanpa membunuh macan dan tanpa membeli. Kulit macan itu harus
diperoleh dari seekor macan yang rela diambil kulitnya untuk sang
calon pemimpin negeri.
Maka, tanpa diketahui asal dan penyebabnya, muncullah 27 ekor macan
memasuki sebuah perkampungan. Mereka tidak mengganggu, tidak
merusak,
dan tidak membunuh. Mereka datang dengan damai, masuk ke
perkampungan
manusia. Mereka telah siap menghadapi berbagai resiko ketika
berhadapan dengan manusia.
Macan itu bukan macan siluman, mereka benar - benar macan, macan
tulen. Mereka muncul untuk menyerahkan salah seorang dari mereka
untuk diambil kulitnya. Maka, mereka menyerahkan teman mereka kepada
pemimpin perkampungan. Lalu, mereka pulang dengan damai sambil
meninggalkan teman mereka untuk menjalani pembantaian.
Sampai di sini, air mata kami yang mendengarkan cerita ini sudah
mulai mengalir. Alangkah mulianya hati sang macan. Dia rela turun
gunung, meninggalkan keluarganya, meninggalkan kelompoknya, untuk
menyerahkan satu-satunya harta yang paling berharga baginya, yaitu
kulitnya yang belang itu.
Maka, dikulitilah sang macan. Dia tidak dibunuh dan tidak disakiti.
Dia dikuliti dalam keadaan hidup. Alangkah sakitnya, luar biasa
sakitnya. Kami yang mendengarkan cerita ini sama sekali tidak berani
membayangkan bagaimana sakitnya. Kulit dicubit saja sudah sakit
apalagi dikuliti. Aduuuuhhhhh Tuhan, tak terbayangkan sakitnya.
Sang macan hanya bisa mengkedipkan mata, mengucurkan air mata. Dia
tidak marah, dia tidak berteriak, dia tidak merintih. Dia pasrah,
dia
rela. Ambillah, ambillah untuk keselamatan manusia. Oooohhhh Tuhan,
alangkah mulianya dia.
Sekarang, sang macan masih hidup. Dia tidak lagi memiliki kulit.
Harta yang paling berharga bagi dirinya telah diambil. Sekarang dia
terbaring lemah di dalam sebuah kandang. Tubuhnya dibalut dengan
kapas dan dia diberi makan daging halus setiap hari. Dia dirawat
sampai kulitnya tumbuh kembali. Menurut cerita, kulitnya akan tumbuh
dalam waktu 7 bulan. Itupun kalau memang tumbuh.
Setiap hari, sang macan hanya bisa mengedipkan matanya, mengucurkan
air mata karena sakit, pedih, perih. Oooohhhhh Tuhan, adakah manusia
yang semulia hati sang macan ?
Sang calon pemimpin negeri pun mencucurkan air mata ketika
menceritakan cerita ini. Begitu mulia hati sang macan. Adakah
manusia
yang hatinya semulia ini ?
----------------------------------------------------------
Sudah akh, aku nggak tahan lagi. Cukup sampai di sini dulu.
Salam,
Antonius Suryajaya
Langganan:
Postingan (Atom)