Jumat, 27 Februari 2009

Oooh, begitu tokh ...

Salam Sirnagalih,

Bagi para peserta meditasi LQ-2005, sepertinya pasti akan setuju
kalau dikatakan bahwa puncak rangkaian meditasi LQ-2005 kemaren
terjadi pada malam ke-5, pada saat Guru menanamkan energi dari Tibet
(Himalaya) dan energi dari Mesir (Timur Tengah) ke putranya, Fali.
Sayapun setuju demikian.

Dari rangkaian 7 malam meditasi LQ-2005 ini, kejadian itulah yang
paling berkesan bagi saya pribadi, karena pada kejadian itulah saya
mengenal lebih jauh apa yang menjadi tugas seorang pembimbing seperti
Guru.

"Kembangkan dirimu dan peluklah mereka dengan seluruh ketulusan mu.
Sayangilah mereka. Lindungilah mereka. Jangan pernah meninggalkan
mereka. Mereka tidak tahan kepanasan dan kedinginan. Mereka masih
lemah. Engkau kuat. Janganlah engkau biarkan mereka menderita,
janganlah engkau tinggalkan mereka".

Begitulah potongan pembicaraan antara Guru dengan putranya yang baru
saja 'dibaptis' nya. Dari pembicaraan itulah saya bisa mengenal lebih
dalam tentang apa yang selama ini telah dijalani oleh Guru dalam
rangka membimbing murid - muridnya. Begitu besar kasih sayangnya
kepada kita semua. Begitu berat tugas yang dipikulnya.

Pada saat itu, saya hanya bisa berucap: "Oooo, begitu tokh ..." di
dalam hati.

Rupanya, itulah jawaban dari apa yang Guru ungkapkan pada hari
pertama meditasi LQ-2005 tentang 'tugas' yang diberikan oleh alam.
Dan, kejadian inipun nyambung dengan apa yang Guru sampaikan kepada
saya beberapa hari sebelum rangkaian meditasi LQ-2005 dan sebelum
program SMS Sirnagalih diluncurkan. "Pembinaan orang itu sangatlah
berat. Apalagi membina orang untuk meningkatkan kesadaran nya. Habis -
habisan kita mengerahkan segala daya upaya, tapi hasilnya sangat jauh
dari yang diharapkan", begitulah curahan hati Guru pada saat itu.

Mendapatkan pencerahan pada malam itu, tidak ada kata yang pantas
untuk diucapkan atas segala jerih payah dan perjuangan Guru untuk
membina kita semua, yang telah mengorbankan bukan cuma materi,
tenaga, dan waktu, tapi juga telah mempertaruhkan nyawanya sendiri
untuk membina kita semua. Hanya inilah yang bisa diucapkan: "Terima
kasih, Guru... Tidak ada lagi kata - kata yang bisa kami ucapkan atas
rasa syukur dan terima kasih ini. Terima kasih banyak untuk
semuanya". Semua jerih payahmu tidak akan pernah sia - sia, Guru.

Salam,
Antonius Suryajaya

Pengalaman tirakat 2006

Salam Sirnagalih,

Kegiatan tirakat puasa bulan Februari 2006 yang lalu adalah tirakat
ke-4 bagi saya. Seperti biasa, setiap kali melakukan tirakat, ada
saja pengalaman yang berharga yang saya dapatkan.

Pada saat mengikuti tirakat pertama, saya memilih untuk mutih. Tiga
hari setelah memulai tirakat, saya langsung diuji karena harus hadir
dalam pernikahan adik kandung saya sendiri. Untuk tidak mempermalu
tuan rumah, saya tetap mengambil makanan lengkap, tapi ada sebagian
nasi putih yang tidak saya siram bumbu. Bagian itulah yang saya
makan, sementara sisanya saya suapkan ke anak saya.

Pada tirakat yang ke-4 ini, cobaan juga datang pada hari ketiga. 2
hari pertama ngerowot bisa saya lewatkan dengan aman dan tenang.
Tapi, begitu masuk hari ke-3, sebuah insiden mengakibatkan infeksi
lambung saya kambuh. Badan saya demam dan rasa nyeri yang hebat
menyerang lambung saya. Untungnya, karena makanan yang masuk tidak
bervariasi, infeksi lambung ini tidak disertai diare.

Memasuki sore hari di hari ke-3 itu, badan saya semakin demam. Tapi,
hati saya tetap bulat untuk melanjutkan tirakat. Saya sama sekali
tidak menyentuh obat apapun. Saya biarkan semuanya terjadi dan
berjalan begitu saja.

Untuk meringankan beban sakit ini, agar saya bisa tetap bekerja
seperti biasa, saya gunakan lambang penarik kuman. Saya gambar
lambangnya, lalu saya buat bola energi sampai padat sambil
membayangkan dalam bola energi itu ada banyak sekali 'bendera
bendera' lambang penarik kuman itu. Lalu, saya masukkan ke lambung
saya dan membayangkan lambung saya diselimuti oleh bola energi itu
lalu bola energi itu menyedot semua kuman yang mengakibatkan infeksi
di lambung saya. Afirmasi saya tutup dengan: "bekerjalah terus
menerus sampai semua kuman penyebab infeksi di lambung saya habis
tersedot semuanya".

Untuk menahan rasa sakit dan mengendalikan demam, saya gambar
lambang pengendali rasa sakit dan saya masukkan ke batang otak saya.
Tidak lama kemudian, rasa nyeri di lambung dan demam saya mereda.
Tinggal kepala saja yang masih tetap berat seperti layaknya orang
terserang demam tinggi.

Sekitar setengah jam kemudian, saya gambar lagi lambang regenerasi
sel dan saya masukkan ke lambung saya untuk melakukan regenerasi
sel - sel yang telah dirusak oleh kuman penyebab infeksi.

Begitulah waktu berjalan, saya tetap bertahan dengan tirakat saya
dan tidak mau menyentuh obat apapun. Yang gelisah justru istri saya.
Setiap saat dia memaksa saya untuk minum obat. Pokoknya, sebel deh.
Cuma, karena lagi tirakat, saya juga harus belajar mengendalikan
diri agar tidak terlepas emosi.

Akhirnya, pada hari kedua, di pagi hari saat bangun tidur, tubuh
saya terasa segar bugar kembali. Infeksi lambung itu telah berlalu.
Inilah kali pertama saya bisa melewatkan saat - saat sakit karena
infeksi lambung tanpa sebiji obatpun masuk ke dalam diri saya.
Benar - benar sebuah pengalaman yang berharga bagi saya.

Salam,
Antonius Suryajaya

What's happening with me ..

Salam Sirnagalih,

Pagi hari ini terasa berbeda dengan hari - hari sebelumnya bagi saya,
sehingga saya perlu bertanya: "apa yang telah terjadi pada diri saya?".

Tadi malam, saya tidak hadir di RSS Tulodong. Tidak seperti biasanya
pada hari Selasa malam, saat pemantapan pengobatan, saya tidak pernah
ketinggalan untuk hadir di RSS Tulodong. Tapi, tadi malam, saya tidak
hadir karena anak saya yang pertama sedang sakit panas. Saya harus
memberikan perhatian buat dia dan keluarga saya. Karena Senin malam
saya tidak sempat mengantar mereka tidur karena membawakan pemantapan
dasar di RSS Tulodong, maka Selasa malam nya saya pulang untuk mereka.

Pagi hari ini, seperti biasanya, saya berangkat kerja pada jam 6 pagi.
Yah ... kurang - kurang dikit lah, karena kalau telat jalanan jadi
tidak nyaman karena kemacetan muncul di mana - mana.

Di tengah perjalanan, saya merasakan suatu rasa muncul dari dalam diri
saya. Reaksi berikutnya, timbul rasa rindu yang amat sangat di dalam
hati. Air matapun pengen mengalir keluar, maka saya biarkan saya dia
mengalir dan menetes. Saya nggak peduli lagi dengan sekitar saya. Saya
tidak peduli kalau ada yang melihat saya dan bingung melihat saya
meneteskan air mata. Biarkan saja.

Setelah itu, ke manapun saya melihat, yang saya rasakan hanyalah cinta
atau lebih sering disebut sebagai rahman rahim. Kemanapun saya
berpaling, yang saya rasakan hanya itu. Melihat ke mobil yang meliuk -
liuk nyerempet ke sana ke mari, yang saya rasakan hanyalah cinta. Alam
ini sepertinya padat dengan energi cinta. Hati saya begitu tenang dan
nyaman nya.

Melihat ke pinggir jalan tol di mana bis berhenti seenaknya menarik
penumpang, yang selama ini membuat saya sebel, tapi sekarang yang
terasa hanyalah cinta. Ketika nyangkut di belakang truk yang berjalan
di bawah 60km per jam, yang selama ini bikin sebel dan mangkel, tapi
sekarang yang terasa hanyalah cinta.

Begitulah terus terjadi selama lebih dari 1 jam. Ketika saya hampir
sampai di kantor, kembali air mata pengen mengalir lagi dan saya
biarkan dia menetes di pelipis saya sambil membiarkan orang lain
bengong melihat saya.

Maka, di pagi ini saya harus bertanya, apa yang telah terjadi ?
Apakah telah terjadi sesuatu di RSS Tulodong pada Selasa malam tadi ?
Tolong dong diceritakan bila ada sesuatu yang terjadi kemaren malam.

Atau kah telah terjadi sesuatu pada diri saya ? Mungkinkah kesadaran
yang selama ini sudah ditanamkan oleh Guru, muncul dan beraksi pada
pagi hari ini sehingga saya bisa melihat alam dengan cara berbeda dari
biasanya ?

Ataukah .... ataukah .... akh, aku masih harus banyak merenung dan
tafakur mencoba mengerti kebijaksanaan alam ini. Guru, janganlah bosan
membimbing murid yang kadang - kadang keras kepala, angkuh, dan
sombong ini.

Tuh .. kan, air mata nya pengen mengalir lagi nih... Ihik ... ihik ...

Salam,
Antonius Suryajaya

Semua diciptakan untuk manusia, termasuk ...

Salam Sirnagalih,

Dalam berbagai pelajaran yang disampaikan oleh Guru, khususnya yang
berhubungan dengan materialisasi, Guru mengatakan bahwa semua
kebutuhan manusia sudah tersedia di dunia ini. Semuanya telah
diciptakan untuk manusia, untuk menunjang kehidupan manusia.

Pada suatu ketika, ada seorang praktisi Sirnagalih yang datang ke
saya. Sepertinya dia ingin berkonsultasi dengan saya. Seperti biasa,
babak pertama pembicaraan saya isi dengan mendengarkan. Praktisi itu
bercerita panjang lebar dan saya hanya manggut - manggut saja. Gaya
ceritanya khas sekali, dengan suara yang bergelombang dilengkapi
dengan gerakan tangannya yang atraktif.

Lama sekali dia bercerita dan selama itu saya hanya mendengarkan,
sambil manggut - manggut, dan sesekali menyambungkan kata-katanya
untuk memberikan kesan kepadanya bahwa saya masih mendengarkan dan
saya mengerti apa yang dia sampaikan.

Lumayan lama juga dia bercerita sehingga tanpa terasa waktu telah
berlalu lebih dari 1 jam. Barulah dia mengajukan pertanyaan kepada
saya dan memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara.

Sebenarnya, inti cerita dia hanya satu. Dia menterjemahkan pelajaran
yang diberikan oleh Guru secara sempit. Apa yang dia tangkap dari
ucapan Guru tentang "semuanya diciptakan untuk manusia" adalah sisi
enak nya saja, sisi nikmatnya saja. Oleh karena itu, dia tidak bisa
menerima kenyataan dalam kehidupannya yang banyak masalah, banyak
kesulitan, banyak benturan, dan sebagainya. Dia mengeluh dan dalam
keluhannya itu, dia menyalahkan orang lain. Dia merasa bahwa semua
masalah yang dia hadapi sekarang terjadi karena orang lain.

Ketika saya sampaikan bahwa apa yang terjadi dalam kehidupannya saat
ini bersumber dari dirinya sendiri, dia tidak bisa menerimanya. Dia
mulai menceritakan bagaimana dia telah berbuat baik melalui berbagai
macam cara. Pokoknya, dia tidak bisa menerima kalau saya mengatakan
bahwa dia harus merubah jalan pikirannya, walaupun saya telah
membongkar masalah yang dia hadapi satu per satu dan menghubungkannya
dengan apa yang telah dilakukannya sehingga masalah itu muncul.

Jadi, perlulah kita ingat salah satu pelajaran dari Guru tentang
bersyukur, bahwa kita harus bisa mendayagunakan semua yang kita
dapatkan saat ini untuk mencapai kualitas diri yang lebih baik. Dalam
pelajaran ini terkandung makna bahwa kita harus bisa menerima semua
kenyataan dalam kehidupan kita, entah itu enak dan nikmat ataupun
tidak enak dan menyakitkan, semua harus bisa kita pakai sebagai batu
loncatan untuk meningkatkan kualitas diri kita.

Sang Pencipta alam semesta ini tidak hanya menyediakan segala yang
enak dan nikmat untuk manusia, tapi dia juga menyediakan penderitaan,
kesusahan, penyakit, kejahatan, dan sebagainya yang tidak mengenakkan
bagi manusia. Apakah Sang Pencipta itu masa bodoh, sehingga dia tidak
peduli dengan segala yang tidak enak itu ? Jawabannya, tidak ...

Semuanya yang tidak enak itu disediakan. Yaa, 'disediakan', bukan
'dibiarkan'. Beda khan: 'disediakan' dengan 'dibiarkan'. Maksudnya
adalah bahwa semua penderitaan, kejahatan, penyakit, dan segala yang
tidak enak itu disediakan bagi manusia. Untuk apa ..? Untuk menjadi
sarana bagi manusia untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Bagaimana manusia bisa mengerti tentang 'sehat' kalau manusia tidak
kenal 'sakit' ? Bagaimana manusia bisa kenal 'kaya' kalau manusia
tidak mengenal 'miskin' ? Nah, begitulah ... semua yang tidak enak
itu disediakan bagi manusia agar manusia bisa mengenal apa itu 'enak',
apa itu 'senang'. Dengan mengenal 'senang', barulah manusia bisa
'menyenangkan', maka muncullah motto Sirnagalih: 'senang - menyenangkan'.

Pertanyaan berikutnya: apakah dengan motto 'senang - menyenangkan'
berarti praktisi bisa protes kalau dia tidak saya layani ketika
meminta pengobatan kepada saya ? Dengan tegas saya katakan bahwa saya
bebas memilih orang yang ingin saya obati, karena saya juga pengen
senang. Apakah wajar kalau ada praktisi yang datang kepada saya dan
mengatakan: "Pak Anton, tadi saya makan enak lho, sekarang tolong
obati saya agar saya tetap langsing, ya !!!". Hehehe ... silahkan Anda
berkomentar sendiri.

Salam,
Antonius Suryajaya

Menyayangi dan Mencintai

Salam Sirnagalih,

Apa tujuan kehidupan ini? Apa yang harus kita capai dalam kehidupan
ini? Ke mana arah kehidupan ini? Itulah kira-kira pertanyaan yang
muncul dalam pikiran saya bertahun-tahun sebelum saya mengenal
Sirnagalih. Ketika itu, saya masih berada di kampung halaman saya, di
Padang.

Saya memperhatikan kehidupan banyak orang termasuk kakek saya yang
ketika itu masih hidup. Saya perhatikan beliau setiap subuh sudah
bangun, lalu begitu matahari terbit, beliau sudah mengayuh sepedanya
menuju tempat kerjanya yang berjarak lebih dari 5 kilometer dari
rumah. Lalu, ketika matahari hampir terbenam, beliau kembali ke rumah.
Dari Senin sampai Sabtu, beliau rutin melakukan hal itu. Di hari
Minggu, beliau merawat sepedanya, lalu duduk di teras rumahnya
menikmati rokok nipahnya sambil sesekali bermain dengan cucu-cucunya.

Itulah kakekku. Lain lagi dengan nenekku, lain pula dengan ayahku, dan
lain lagi dengan para tetanggaku. Sangat sulit bagi saya untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan di atas: "Apa tujuan kehidupan
ini?". Apa yang saya perhatikan dari sekeliling saya hanyalah
rutinitas kehidupan. Anak-anak bersekolah, remaja juga masih
bersekolah. Yang lebih dewasa bekerja di kantor. Setelah itu, menikah
lalu punya anak. Ada tetangga yang punya perusahaan sendiri dengan
merek dagang Surya Mas. Setelah itu, semuanya meninggalkan dunia.

Kata agama, semua orang yang meninggal akan masuk surga untuk
selamanya. Lalu, saya mencoba merasakan bagaimana yang namanya
'selamanya' itu.

10 tahun ? Masih belum.
100 tahun ? Masih belum juga.
Lalu, 1000 tahun ? Juuaaauuuuh lebih lama lagi.
100ribu tahun ? Masih lebih lama lagi.
1juta tahun ? Wah, lama sekali, tapi masih lebih lama lagi.
10juta tahun ? Akh, cape deh .., tapi masih jauh lebih lama lagi.

Jadi, yang disebut 'selamanya' itu sungguh luar biasa terlalu amat
sangat lama sekali.

Saya jadi bertanya lagi, untuk apa Sang Pencipta menciptakan manusia
hanya untuk berdiam di surga sampai sebegitu lamanya ? Kalau sehari
saja ada 1 manusia meninggal dan masuk surga, maka dalam 10juta tahun
saja sudah ada 3milyar manusia di surga. Waduh, surga itu pasti sumpek
dan berdesak-desakan seperti ikan sarden.

Jadi, apa tujuannya Sang Pencipta menciptakan manusia kalau cuma akan
dijadikan ikan sarden ?

[Hehehe ... itu jalan pikiran waktu remaja dulu, lho. Sekarang kan
sudah belajar di Sirnagalih. Sudah beda jalan pikirannya. Tapi, ini
cerita jaman baheula, jaman dulu.]

Ketika itu, saya sempat bertanya kepada ibu saya. Saya masih ingat
benar, ketika itu saya mengajukan pertanyaannya di samping sumur di
rumahku di kampung. "Ma, sebenarnya untuk apa sih kita hidup?". Ibu
saya bengong sebentar, lalu dia berkata: "Akh, kamu masih anak-anak,
belom tau diampek". [Ampek itu bahasa Padang artinya 4.]

Cuma begitu jawabannya. Bingung, kan ..?

Nah, itu cerita dulu. Sekarang ceritanya lain, karena sudah dapat
banyak pencerahan di Sirnagalih, terutama dari Guru [begitu sebutan
beliau dulunya. Sekarang beliau sudah bergelar Gusti Pangeran Yang
Mulia Maha Guru]. Dari beliaulah saya mendapatkan banyak pencerahan
tentang kehidupan, termasuk jawaban atas pertanyaan tersebut di atas.
Jawaban yang paling lengkap atas pertanyaan di atas, saya dapatkan
ketika mengikuti acara LQ tahun 2003. Itulah acara LQ pertama yang
saya ikuti.

Ketika turunnya energi LQ menyirami saya, ada 3 pencerahan yang saya
dapatkan. Salah satunya merupakan jawaban atas pertanyaan di atas.
Isinya kira-kira begini: "Alam semesta diciptakan karena RR,
diciptakan dengan RR, lalu alam semesta diisi dengan RR, lalu
dipelihara dengan RR, dan alam semesta dihidupi dengan RR. Pada
saatnya nanti, alam semesta dihancurkan juga karena RR dan dengan RR."
[Benar nggak ya, alam semesta akan dihancurkan. Akh, EGP aja deh,
pokoknya begitulah yang saya dapatkan, jadi saya ceritakan begitu]

Jadi, sebenarnya yang ada di alam semesta itu cuma RR doang, sehingga
tujuan hidup manusia pun sebenarnya adalah RR. Maka, dengan pencerahan
itu, menjadi jelaslah bagi saya semua hal yang saya perhatikan selama
ini. Kakek saya menjalani kehidupan seperti cerita di atas karena dia
menyayangi dan mencintai. Dia mencintai pekerjaannya sehingga dia rela
bersepeda jauh pada usia yang sudah melewati 60 tahun. Dia mencintai
keluarganya sehingga dia terus berjuang untuk menafkahi mereka. Dia
mencintai sepedanya sehingga dia merawatnya dengan baik. Dia mencintai
cucu-cucunya sehingga dia meluangkan waktu untuk mereka. Dan
seterusnya dan selanjutnya....

Demikian juga dengan nenek saya, ayah saya, para tetangga saya,
semuanya mempunyai sesuatu yang disayangi dan dicintainya. Jadi,
tujuan kehidupan ini sebenarnya adalah menyayangi dan mencintai.
Itulah yang diwujudkan oleh manusia, baik secara sadar maupun tidak
sadar, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Tapi, kenapa ada sebagian orang yang begitu menjengkelkan karena
sering bertingkah laku dan memperlihatkan sikap yang kurang
menyenangkan? Percayalah, sebenarnya diapun ingin mewujudkan kasih
sayang dan cinta kasih, tapi dengan cara yang tidak kita harapkan.
Karena tidak sesuai dengan harapan kita, maka kita merasa kurang
nyaman dengan tingkah laku dan sikap dia.

Sudah akh, sampai di sini dulu saja ceritanya, ya ... Pegel nih.

Eh ... entar dulu, ada pembaca yang nyeletuk tuh, "Jadi, kalau si
Anton judes dan ketus sama pembaca, itu juga wujud dari kasih sayang
dan cinta kasihnya sama pembaca". Hehehe ... iya kali yeh ...

Salam,
Antonius Suryajaya

Kita adalah apa yang kita pikirkan

Di jaman dulu, ada seorang bernama Li Bo Shi. Ia suka melukis kuda.
Lukisan kudanya sangat terkenal. Li Bo Shi selalu memikirkan kuda,
baik pagi, siang, malam, boleh dikata setiap detik.

Pada suatu hari, Li Bo Shi tidur siang. Kebetulan, sahabatnya Dong Xiu
Zan Shi datang menjenguknya. Sahabatnya melihat Li Bo Shi, saat tidur
nyenyak, sebentar berubah menjadi kuda, sebentar kemudian berubah lagi
menjadi manusia.

Dong Xiu Zan Shi menasihati Li Bo Shi untuk waspada. Kalau terus
menerus memikirkan kuda, maka Li Bo Shi akan "reinkarnasi menjadi kuda".

Jagalah pikiran

Dalam setiap urusan manusia,
begitu pikirannya bergerak,
alam gaib langsung tahu.

Tak peduli,
apakah itu urusan besar ataupun kecil,
ibaratnya seperti bayangan yang mengikuti benda.

Karena itu,
orang jahat yang bersedia insaf,
berhenti berbuat kejahatan,
mulai menjalankan segala kebajikan,
lambat laun akan mendapatkan keberuntungan.
Malapetaka berubah menjadi berkah.

Ibarat mendaki gunung

Salam Sirnagalih,

Perjalanan saya di Sirnagalih bisalah saya ibaratkan dengan
perjalanan mendaki sebuah gunung.

Saya memulai pendakian dari lereng gunung. Tujuan nya adalah puncak
gunung yang menjulang tinggi di angkasa, sedemikian tingginya sampai-
sampai puncaknya tidak terlihat oleh mata.

[waduh ... belum-belum ada yang nyeletuk tuh: "pakai helikopter aja".
Eeee ... ini perumpamaan. Emang bisa pakai helikopter naik ke
kesadaran tinggi ?]

Di lereng gunung, suasananya ramai sekali. Semua orang sibuk dengan
dirinya masing - masing. Ada yang membangun rumah, ada yang jualan,
ada yang mondar-mandir, dan sebagainya. Mereka kawin dan mengawini,
sehingga ramailah suasananya. Ada juga yang sibuk mengurus kampanye
politik agar dipilih jadi pemimpin. Akh ... pokoknya, ramailah.

Lalu, dengan bantuan Guru, perlahan - lahan saya mendaki ke atas.
Guru bukan saja menunjukkan jalannya, tapi juga memberikan bekal
kepada saya agar bisa kuat naik ke atas.

Di sepanjang perjalanan, saya suka iseng mengganggu sana sini. Kadang-
kadang juga merusak. Sebagiannya saya lakukan karena saya tidak tahu
kalau perbuatan saya itu mengganggu dan merusak. Sebagian lagi
sengaja saya lakukan untuk mendapatkan bukti bahwa saya memang sedang
berjalan ke atas.

Pada ketinggian tertentu, saya berhenti untuk mencoba melihat ke
bawah. Pada saat melihat ke bawah, maka tersadarlah saya bahwa saya
mempunyai banyak kekurangan. Saya sadar bahwa saya sering berbuat
rendah. Saya sadar bahwa saya ini lemah. Dan sebagainya ...

Maka, menangislah saya, merenungkan semua perbuatan saya, merenungkan
semua kebaikan Guru, merasakan bagaimana lemah dan rapuh nya jiwa
saya, dan berharap agar Guru masih bersedia membimbing saya agar saya
bisa terus naik ke atas.

Dalam perjalanan ke atas, suasana makin lama makin sepi, sementara
saya mendapatkan semakin banyak pengalaman. Kadang kala saya merasa
capek menempuh perjalanan ini. Keramaian di bawah menggoda saya untuk
kembali ke bawah. Saya dilanda kebingungan, kebimbangan, dan keragu-
raguan. Pada saat seperti ini, tidak ada jalan lain selain melakukan
pembersihan hati lagi .. lagi .. dan lagi.

Guru pun tahu akan kondisi saya. Dia tahu kalau bekal yang saya bawa
sudah tidak cukup lagi bagi saya. Maka, Guru pun menambahkan bekal
agar saya bisa terus naik menuju puncak.

Kadang kala, saya asyik bermain - main, sehingga saya membuang -
buang waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Saya terjebak dengan
keindahan yang saya temui. Pada saat itu, Guru kembali mengingatkan
saya dan memberikan banyak kebijaksanaannya bagi saya. Guru
menasehati saya agar saya jangan terlena, jangan terjebak dengan
berbagai kesaktian yang saya alami. Tujuan saya masih jauh. Janganlah
saya terlena dengan keindahan di sepanjang perjalanan.

Begitulah perjalanan saya, yang sampai sekarang masih jauh dari
tujuan saya. Masih jauh dari puncak gunung. Saya masih bersyukur
karena saya masih diijinkan datang ke Sirnagalih, walaupun sudah
banyak sekali perbuatan rendah yang saya lakukan. Kalau sudah tidak
diijinkan lagi datang ke Sirngalih, entahlah ... mungkin saya akan
menggelinding jatuh ke bawah dan hancur berkeping - keping.

Terima kasih, Guru atas kasih sayang Mu yang demikian besar. Setiap
kali bertemu dengan Guru, saya bisa merasakan bagaimana besarnya
kasih sayang itu, menenggelamkan keangkuhan dan kesombongan saya.
Semoga saya masih diijinkan datang ke Sirnagalih untuk mendapatkan
bimbingan Mu. Terima kasih ... terima kasih ... terima kasih ...

Salam,
Antonius Suryajaya

Sakit Pikiran

Salam Sirnagalih,

Beraneka tipe pasien sudah saya tangani. Ada pasien yang mendapatkan
manfaat dari prosesi pengobatan yang saya lakukan dan ada juga yang
sama sekali tidak mendapatkan manfaatnya. Ada pasien yang langsung
merasakan manfaat nya dan ada yang merasakan manfaatnya setelah
pengobatan berlangsung selama beberapa bulan.

Salah satu kasus pasien yang langsung merasakan manfaat pengobatan
adalah seorang ibu tua yang sudah tidak bisa diobati secara medis.
Dokter hanya berkata: "Yaaa ... kita berdoa saja, bu. Mudah - mudahan
bisa sembuh", karena dokter pun sudah menyerah, tidak tahu harus
bagaimana lagi. Setelah saya obati, lengkap dengan berbagai wejangan
dan bekal air pengobatan yang sudah saya buatkan, tidak sampai
seminggu kemudian saya mendapat kabar bahwa dia sekarang sudah merasa
segar dan bisa beraktifitas kembali. Dan dia minta bekal air
pengobatan lagi. [Yaaa ... ujung nya selalu nggak enak]

Ada juga kasus pasien yang sama sekali tidak mendapatkan manfaat
pengobatan yang saya berikan. Pasien ini sudah berobat ke mana -
mana. Berbagai dokter sudah ditemuinya. Dia juga sudah berobat ke
Singapore. Tapi, penyakitnya bukannya sembuh malahan bertambah parah.
Dia sendiri merasa dirinya penuh dengan penyakit. Mulai dari maag,
lever, ginjal, sampai ke parkinson segala. Pokoknya persis deh
seperti yang diomongin oleh Guru: "Masih hidup saja sudah seperti di
neraka".

Menurut dia, dokter sudah tidak tahu dia itu sakit apa. Ke dokter
yang satu, penyakit nya dibilang "A'. Ke dokter yang lain,
penyakitnya menjadi "B". Ke dokter yang lain lagi, penyakitnya "C".
Pokoknya, nggak jelas deh ...

Lalu, seperti biasa, saya melakukan prosesi pengobatan di bawah
panduan Kesadaran Tinggi. Selesai prosesi pengobatan, seperti biasa,
wejangan saya bertema 'semua penyakitnya berawal dari pikiran'.
Saudara - saudaranya juga memperkuat tema saya dengan berbagai
pengalaman mereka atas si pasien. Akhir cerita, si pasien mengaku
merasa lebih tenang dan lebih segar.

Beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji kita untuk melanjutkan
pengobatan, si pasien menyampaikan pesan lewat saudara dia yang juga
merupakan teman kantor saya. Singkat cerita, semua wejangan saya
telah berubah menjadi ketakutan bagi dirinya. Dia yang pada saat itu
mengaku telah menjadi lebih segar dan lebih tenang, rupanya di
rumahnya berubah menjadi sumber ketakutan baru bagi dirinya, yang
akhirnya membuat dia menolak untuk melanjutkan pengobatan.

Mendapatkan kenyataan itu, saya teringat dengan kata salah seorang
dokter yang pernah mengobati dia (berdasarkan cerita saudaranya) yang
mengatakan bahwa si pasien ini sakit secara sugestif. Jadi, tidak
salah kalau wejangan saya berjudul 'semua penyakitnya berasal dari
pikiran'. Selama dia tidak bisa mengendalikan pikirannya, selama itu
pula dia akan tersiksa oleh rasa sakit yang tidak ada habis -
habisnya.

Salam,
Antonius Suryajaya

Anak Pilihan

Salam Sirnagalih,

Salah satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari Guru adalah
kesempatan untuk membesarkan seorang manusia yang berkualitas.

Ceritanya dimulai ketika istri saya hamil tua. Memasuki usia kehamilan
9 bulan, dia sering bermimpi tentang kambing. Dari sebuah buku
referensi yang saya baca, diceritakan bahwa apabila pada kehamilan tua
sang istri sering bermimpi tentang seseorang atau seekor binatang,
maka ada kemungkinan roh manusia atau binatang itulah yang merasuki
jabang bayi itu.

Mendengar cerita istri saya tentang mimpinya itu, kami teringat akan
kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana istri saya menabrak seekor
anak kambing ketika sedang mengantar anak pertama kami ke sekolah.
Kambing itu mati karena tabrakan itu.

Pada satu kesempatan bertemu dengan Guru, saya ceritakanlah perihal
ini kepada Guru. Pada saat itu, saya melihat Guru menggerakkan
tangannya. Ketika saya ingin bicara lebih banyak, Guru
berkata: "Tunggu...". Maka, mengertilah saya bahwa Guru sedang
meneropong jarak jauh.

Tidak lama kemudian, Guru berkata: "Betul, memang kambing yang ada di
rahim istri saya. Si kambing telah memblokir janin itu untuk lahir
menjadi manusia". Rupanya, inilah karma yang harus ditebus oleh saya
dan istri saya.

Dengan welas asihnya yang besar, Guru kembali menggerakkan tangannya.
Ada gerakan seperti menunjuk dan gerakan seperti menyuruh keluar.
Lalu, ada gerakan menangkap di angkasa dan disusul dengan gerakan
seperti memasukkan sesuatu.

Kemudian, Guru bercerita bahwa roh kambing sudah dikeluarkan dari
rahim istri saya dan telah diganti dengan roh manusia. Sayapun mencium
tangan Guru sebagai rasa terima kasih yang teramat besar kepada
beliau, walaupun saya masih belum bisa mengerti kejadian itu
sepenuhnya. Kesadaran saya masih belum mampu memahami semuanya.

Pada saat hari - hari terakhir kehamilan istri saya, saya kembali
bercerita kepada Guru, termasuk berita bahwa anak ini tidak bisa lahir
normal karena ukuran kepalanya sudah terlalu besar untuk lahir normal.
Guru mengatakan bahwa secepatnya saja di-caesar. Maka, ditetapkanlah
waktu lahirnya: 11 November. Pada kesempatan itupun, Guru kembali
memeriksa 'isi' sang jabang bayi. Kata Guru: "Dia sudah mau pergi
lagi, tuh". Saya mengerti apa yang Guru maksud, yaitu sang roh yang
sudah dimasukkan oleh Guru beberapa waktu yang lalu.

Maka, lahirlah sang bayi dengan normal tanpa masalah. Hebatnya, luka
caesar istri saya pun cepat sembuh, tidak seperti normalnya. Hal ini
membuat dokter nya pun terkagum - kagum.

30 hari setelah lahir, yang hampir bertepatan dengan hari raya idul
fitri, kami mengadakan selamatan untuk bayi saya, yang saya sebut
sebagai 'anak pilihan' ini.

Sekarang, anak pilihan ini belum lagi berusia 3 tahun, tapi perjalanan
hidupnya penuh dengan kejutan, karena sangat berbeda dengan kakaknya.
Kemanapun dia pergi, dia selalu menjadi pusat perhatian orang, baik
ibu - ibu maupun anak - anak sekolah.

Pernah kami berjalan - jalan ke toko sepatu, membeli sepatu untuk
kakaknya. Dengan lincahnya, sang anak pilihan ini memilihkan sepatu
untuk kakaknya. Ketika saya pilihkan sebuah sepatu, dengan lantangnya
dia berkata: "Nggak cocok dong .." sambil melotot ke arah saya. Semua
orang yang sedang berbelanja saat itu spontan terbengong - bengong
melihat dia. Bagaimana tidak, anak belum berusia 3 tahun tapi sudah
bisa berkomentar seperti anak usia SD.

Banyak sekali kejadian - kejadian lain yang benar - benar mengejutkan
bagi saya dan istri saya. Benar - benar sebuah pengalaman yang tak
ternilai harganya. Inilah salah satu berkah Guru bagi saya dan
keluarga saya. Terima kasih, Guru ... terima kasih ... terima kasih.

Salam,
Antonius Suryajaya

Pasrah tapi tidak pasrah

Salam Sirnagalih,

Kata 'pasrah' digunakan orang untuk mewakili suatu kondisi penyerahan
diri kepada suatu kekuatan di luar dirinya. Dalam banyak kejadian,
kita menggunakan kata 'pasrah'. Pemerintah kitapun selalu menggunakan
kata 'pasrah' untuk memancing rasa 'ketidakmampuan' kita menghadapi
berbagai kenyataan di dalam masyarakat kita saat ini.

Tapi, apakah benar kita 'pasrah' atau cuma sekedar menjadi pihak
yang 'kalah' ..?

Guru selalu mengingatkan kita bahwa di tingkat kesadaran rendah,
manusia harus banyak membuktikan dirinya, sehingga mampu menguasai
diri, menguasai hidup, dan menguasai alam sekeliling. Pengetahuan dan
pengalaman itulah yang kemudian akan menjadi 'bahan bakar' bagi dia
untuk naik ke tingkat kesadaran manusiawi, di mana kita akan
menyadari diri kita secara utuh sebagai seorang manusia.

Jadi, apa bedanya 'pasrah' di tingkat kesadaran rendah dengan pasrah
di tingkat kesadaran manusiawi ..?

'Pasrah' di tingkat kesadaran rendah dipakai untuk menggambarkan
suatu situasi di mana si manusia tidak mampu melakukan apa - apa dan
terpaksa menyerah kepada kekuatan di luar dirinya. Kondisi ini lebih
cocok disebut 'takluk'.

Pasrah di tingkat kesadaran manusiawi adalah suatu kondisi di mana
dia menyerahkan segalanya justru karena dia sadar kalau dia mampu
mengubah situasi itu. Contoh: dia sadar kalau dia mampu menghentikan
hujan, tapi dia memilih untuk membiarkan sang hujan menentukan
sikapnya tanpa melakukan campur tangan pada hujan.

Nah ... yang manakah 'pasrah' yang sesungguhnya ..? Silahkan menilai
sendiri. Saya juga masih dalam tingkat belajar. Jadi, mohon dimaafkan
kalau ada yang salah.

Salam,
Antonius Suryajaya

Dinginnya air kolam Guru

Salam Sirnagalih,

Selasa malam kemaren, untuk kesekian kalinya para anggota Sirnagalih
diberi kesempatan oleh Guru untuk bermeditasi di kolam renang Guru di
desa Sirnagalih - Megamendung. Bagi yang sudah pernah naik, mereka
sudah mengenal rasa air kolam itu, terutama rasa dinginnya. Bagi yang
belum pernah, dia cuma tahu dinginnya dari cerita orang lain dan
mencoba menduga - duga seberapa dinginnya air kolam itu, sehingga
muncul banyak teori untuk mengatasi rasa dingin itu.

Sewaktu pertama kali saya mencoba nya, saya juga mencoba
mempraktekkan berbagai teori yang sudah saya kenal, khususnya teknik
visualisasi api unggun yang pernah saya praktekkan untuk berkeringat
di puncak gunung Merapi di kampung saya (Sumatera Barat). Nyatanya,
tetap saja tubuh saya gemetaran.

Guru sendiri selalu memberikan afirmasi kepada para peserta yang
sedang berendam: "Air adalah aku, aku adalah air ...". Afirmasinya
sih gampang, tapi bagaimana melakukannya supaya tubuh tidak menggigil
lagi ..? Ternyata, tidak segampang afirmasinya. Saya belum menemukan
maknanya, sehingga afirmasi itu tidak dapat mengatasi rasa dingin nya
air.

Tapi, pada Selasa malam kemaren, sepertinya saya sudah menemukan
makna afirmasi Guru itu: "Air adalah aku dan aku adalah air",
sehingga sepanjang lebih dari setengah sesi berendam itu, tubuh saya
sama sekali tidak menggigil. Tubuh saya memang kedinginan, tapi sama
sekali tidak menggigil, tenang ibarat tonggak ditancapkan di dalam
kolam itu.

Apa yang saya lakukan ..? (Pasti itulah pertanyaan yang muncul di
benak para pembaca). Semuanya saya awali dari kesadaran bahwa:

1. Air tidak akan membunuh saya. Jadi, saya tidak perlu takut dengan
air. Sebaliknya, air adalah sahabat saya. Saya harus menerima dia.
2. Air akan melakukan pembersihan pada diri saya. Pembersihan itu
akan maksimal kalau saya pasrah dan tidak melawannya.
3. Rasa dingin yang diberikan oleh air adalah bagian dari pembersihan
itu. Jadi, tidak perlu saya tolak atau saya lawan.

Dari kesadaran itu, maka saya biarkan rasa dingin itu menyelimuti
diri saya. Saya biarkan dia masuk ke dalam diri saya. Oleh karena
itu, rasa dinginnya masuk ke dalam sel - sel tubuh saya. Tubuh saya
terasa dingin. Tapi, anehnya, walaupun merasa dingin seperti itu,
tubuh saya sama sekali tidak menggigil.

Pernah muncul dalam pikiran saya: "kalau tubuh saya kedinginan, nanti
tubuh saya akan beku". Tanggapan itu langsung ditimpali oleh pikiran
lain: "air adalah sahabat, dia juga punya rahman rahim, dia tidak
akan membiarkan kamu celaka". Maka, tubuh saya kembali tenang.

Kondisi seperti itu saya pertahankan terus. Saya tetap bisa merasakan
energi bumi naik menggulung - gulung dan membuat tubuh saya sedikit
terangkat ke atas. Tapi, pada saat energi bulan masuk, saya bisa
merasakan masuknya, tapi tidak bisa merasakan dinginnya, karena tubuh
saya memang sudah dingin, diselimuti oleh dinginnya air kolam.

Ketenangan saya mulai terusik pada saat energi pengampunan dosa masuk
dan menyelimuti diri saya. Tubuh saya bergetar. Karena ada keinginan
untuk merasakan sensasi lain, perlahan - lahan ketenangan saya buyar
dan tubuh saya mulai menggigil kedinginan lagi. Menggigil terus
sampai acaranya diakhiri oleh Guru.

Demikianlah sekedar pengalaman saya. Semoga bermanfaat bagi yang lain.

Salam,
Antonius Suryajaya

Antara baik dan buruk

Salam Sirnagalih,

Melihat perbincangan di milis ini dalam 3 hari terakhir ini, saya
jadi teringat bahwa "baik atau buruk, benar atau salah, saya lah yang
menentukannya".

Bagi saya, segala sesuatu yang terjadi di luar diri saya senantiasa
bersifat netral. Tidak baik dan tidak buruk, tidak benar dan tidak
salah. Siapa yang membuat kejadian itu menjadi baik atau buruk, benar
atau salah ..? Yaaa .. diri saya sendirilah yang menentukannya.

Kadang kala, pada saat kondisi diri lagi tidak bagus, maka saya
melihat segala kejadian itu menjadi sesuatu yang salah dan buruk.
Maka, saya pun mengambil sikap yang cenderung negatif untuk
menanggapinya. Kadang kala, pada saat kondisi diri lagi bagus, maka
segala kejadian itu terlihat baik dan benar. Lalu, saya pun mengambil
sikap yang cenderung positif untuk menanggapinya. Dan, kadang kala,
saya justru tidak memilih. Saya pengen tetap tenang, tidak
terpengaruh ke manapun.

Di Sirnagalih, kita sudah diberitahu oleh Guru bahwa baik dan buruk
adalah hasil pikiran kita, datang dari pikiran kita. Buah pikiran
itulah yang kemudian menjadi dasar dari tindakan kita untuk
menanggapi kejadian itu. Jadi, bagaimana cara seseorang menanggapi
suatu kejadian, dari situlah kita bisa menilai bagaimana dia
memandang kejadian itu.

Pada akhirnya, sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa setiap
kejadian itu tidak lah baik dan juga tidak buruk, tidaklah benar dan
juga tidak salah. Yang membuatnya salah atau benar adalah pikiran
saya. Yang membuatnya buruk atau baik adalah pikiran saya. Kalau saya
bisa mengendalikan pikiran saya agar tetap ajeg, maka saya akan tegar
dan tidak terombang - ambing. Kalau saya tidak terombang - ambing,
maka saya bisa melihat setiap kejadian secara berimbang, baik dari
sisi positif nya maupun dari sisi negatifnya.

Demikian jugalah yang saya lihat terjadi dalam milis ini selama 3
hari terakhir ini. Tentang pembatasan peserta lek-lekan, apakah baik
atau buruk, benar atau salah ..? Bagi saya, pembatasan itu tidak
baik dan tidak buruk. Pembatasan itu hanya perwujudan dari apa yang
saya kenal sebagai 'Rahman Rahim'.

Sama halnya dengan percakapan mas Djoko dan mbak Ingga soal uang.
Apakah menyumbang dengan uang itu benar atau salah ..? Bagi saya,
menyumbang uang itu tidak baik dan tidak salah. Hal itu hanya
merupakan perwujudan dari apa yang saya kenal sebagai "Rahman Rahim".
Jadi, kalau semuanya berasal dari satu, kenapa kita harus
berselisih..?

Tapi, yaaa ... itu kan cuma pendapat dan teori saya. Apakah memang
benar demikian adanya ..? Entahlah ... saya juga tidak tahu, karena
saya juga sedang belajar. Jadi, mohon dimaafkan kalau ada sesuatu
yang salah dan tidak pada tempatnya.

Salam,
Antonius Suryajaya

Gampang jatuh, susah bangun ...

Salam Sirnagalih,

Banyak pesan - pesan Guru yang sudah disampaikan kepada kita
(termasuk saya) sehubungan dengan relatif besar dan kuatnya energi
kita saat dibandingkan dengan tingkat energi kita sebelum bergabung
dengan Sirnagalih. Inti dari pesan - pesan itu antara lain :

1. Kita harus terus menerus menjaga kesadaran kita karena dengan
energi yang besar seperti ini, kalau kita salah menggunakannya maka
kita gampang sekali jatuh. Jatuh nya pun bukanlah jatuh yang empuk,
tapi jatuh terjerembab.

2. Energi besar sebanding dengan tanggung jawab yang besar. Emangnya
enak punya energi besar ...? Kepleset dikit saja bisa apes .. pes ..
pes ...

Berkali - kali terjadi pada saya, yang akhirnya menimbulkan
kesimpulan pada diri saya bahwa 'jatuh' itu terjadinya mudah sekali,
tapi setelah tersadar akan 'kejatuhan' itu, untuk bangkit bangun
kembali rasanya berat sekali. Ada sesuatu yang harus saya 'bayar'
untuk bisa naik kembali.

Kejadian yang kesekian kali terjadi kemaren, sewaktu lagi asyik
menyetir mobil di dalam perjalanan saya menuju rumah. Saat itu,
sebuah mobil berjalan perlahan di depan saya, menghalangi saya untuk
bisa cepat sampai ke rumah. Jalan yang saya lalui hanya cukup untuk 2
mobil dan dipakai untuk 2 jalur kendaraan, sehingga praktis agak
sulit untuk mendahului mobil di depan.

Ketika suatu saat saya punya kesempatan untuk mendahului, tiba - tiba
mobil itu bergerak ke tengah seperti berusaha menghalangi saya untuk
mendahuluinya. Saya kaget dan emosi pun terpancing untuk naik. Saya
semakin tidak sabar mengekor dia berjalan pelan - pelan. Maka, saya
tempelkan moncong mobil saya sedemikian dekatnya dengan buntut mobil
di depan dengan maksud memberi tanda kepada dia bahwa saya pengen dia
berjalan lebih cepat.

Tiba - tiba dia mengerem mobilnya. Kedua kalinya saya kaget, dan
emosi langsung naik. Begitu ada kesempatan mendahului, langsung saya
tancap gas. Begitu sampai di depan mobil itu, dengan sengaja saya
pepetkan mobil saya ke pinggir, sehingga dia berhenti mendadak. Lalu,
saya pergi.

[ Inilah tahap 'jatuh' nya. Proses 'jatuh' ini begitu mudah terjadi
dan sepertinya nikmat sekali untuk melayani nya. ]

Perbuatan saya itu langsung menciptakan peperangan di dalam hati
saya. Rupanya hati saya tidak bisa menerima perbuatan saya itu. Tidak
pada tempatnya saya melakukan hal seperti itu. Sebagai orang yang
sudah dibekali energi rahman rahim, perbuatan itu benar - benar
melukai diri saya. Maka, tersiksalah saya karena perbuatan saya itu.

[ Menurut saya, inilah proses 'pembayaran' hasil perbuatan saya.
Sangat bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan pada saat
melakukan perbuatan itu. Rasanya sangat tidak mengenakkan sekali. ]

Untuk bisa lepas dari siksaan itu, tidak ada jalan lain selain
melakukan pembersihan hati. Maka, saya pun melakukan pembersihan
hati, membersihkan diri dari emosi - emosi yang tidak bermanfaat
seperti itu. Sepanjang proses pembersihan inipun, rasanya sangat
tidak nyaman karena di dalam diri masih terjadi peperangan.

Berbeda dengan proses melakukan perbuatan jelek itu yang begitu
singkat, proses pembersihannya tidak bisa singkat. Butuh waktu yang
relatif lama, lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
perbuatan jelek nya.

Begitulah ceritanya, yang sekaligus membuktikan kebenaran dari pesan-
pesan Guru kepada kita semua. 'Jatuh' itu memang mudah dan (bisa
jadi) nikmat. Tapi, untuk bisa bangun kembali, butuh usaha yang cukup
besar dan juga tidak mudah.

Semoga bermanfaat.

Salam,
Antonius Suryajaya

Pengalaman berpuasa

Salam Sirnagalih,

Membaca cerita mas Cakra, saya jadi ingat pengalaman saat melakukan
puasa mutih 2 tahun yang lalu. Waktu itu, kita puasa masih sendiri -
sendiri, belum ramai - ramai seperti sekarang. Guru menyusunkan
jadwal puasa untuk semua peserta, sesuai dengan hari lahir nya masing-
masing. Pas jadwal saya keluar, aduh mak ..., pas jatuh pada hari
pernikahan adik kandung saya sendiri. Mau ditukar dengan teman yang
hari lahirnya sama, tetap saja melewati hari pernikahan adik saya.

Akhirnya, yaa ... jalanin saja. Pas pesta pernikahan nya, saya tetap
musti duduk di meja keluarga, dan tetap harus ambil makanan. Tapi,
saya cuma bisa makan nasi putihnya doang, tidak boleh kena bumbu
apapun. Sisanya ... saya suapkan ke anak saya. Begitulah terus ...
yang jadi sasaran cuma anak saya.

Demikianlah akhirnya puasa saya genap 21 hari. Selama 21 hari itu,
jangankan makanan (super) enak ... tempe goreng saja sudah membuat
air liur menetes karena saking pengennya dan ditambah dengan rasa
jenuh kita dengan makanan yang itu - itu saja, tanpa bumbu dan tanpa
variasi.

Lalu, bagaimana saya bisa bertahan dengan godaan yang begitu
kuat ..? Yaa .. tidak lain dan tidak bukan adalah karena niat dan
tekat. Niat yang (cukup) kuat membuat saya tidak punya pilihan lain
selain melewatinya.

Tentang niat puasa ini juga telah dibuktikan oleh istri saya sendiri.
Pada puasa yang sekarang ini, dia bilang ke saya untuk ikutan.
Sebagai suami, yaa .. saya dukung dong. Karena kesibukan saya, saya
tidak bisa memantau puasa dia, sampai hari Minggu kemaren dia cerita
ke saya bahwa dia sudah 'buka'. Dia puasa selama 1 minggu. Selama 1
minggu itu, dia tidak mengalami masalah apa - apa. Sakit maag nya
juga tidak kambuh. Pokoknya, semua berjalan dengan lancar. Tapi,
karena tidak tahan kalau hanya makan buah saja, akhirnya dia 'buka'.
Dia makan nasi seperti biasa lagi.

Besoknya, dia pengen puasa lagi untuk meneruskan puasanya yang
terputus. Dia mulai selepas magrib, hanya makan buah saja. Tapi,
untuk sekali ini, dia hanya tahan 24 jam saja, karena badannya lemes,
kepala pusing dan sakit maag nya kambuh lagi. Dan, puasanya pun batal
total.

Begitulah kalau melakukan puasa dengan niat setengah hati.

Salam,
Antonius Suryajaya

Bukan kamu yang memilih ...

Salam Sirnagalih,

Hari ini adalah hari terakhir ngebleng kloter ketiga, yang sekaligus
hari terakhir untuk seluruh prosesi ngalong dan ngebleng di RSS
Tulodong. Banyak sekali berkat dan pengalaman yang telah diberikan
kepada kita semua sebagai peserta acara ini.

Sebagai seorang peserta kegiatan ini, saya pun merasakan sekali
bagaimana besarnya perubahan yang telah terjadi pada diri saya pasca
kegiatan ini. Otak memang tidak menyadari perkembangan ini. Tapi,
fakta dalam kehidupan telah menyajikan banyak bukti sehingga mau
tidak mau, otak saya pun mengakui perubahan itu.

Saya ingin menceritakan pengalaman saya pada saat ngebleng yang
kemudian memunculkan pemahaman dalam diri saya, yang salah satunya
telah saya jadikan judul message saya, yaitu "Bukan kamu yang memilih
Aku, tapi Akulah yang memilih kamu".

Semenjak berakhirnya acara ngebleng team inti (kloter 0) sampai
dengan saat ini, kalau saya mengingat dan merenungkan kejadian -
kejadian di malam terakhir itu, air mata saya akan mengalir keluar
dengan sendirinya, karena tidak ada kata - kata yang bisa
mengungkapkan kebesaran Nya yang dipancarkan pada saat itu. Hanya air
mata sajalah yang bisa mengungkapkannya.

Saat merenungkannya, saya berpikir: siapakah saya ini sehingga saya
sampai diberi kesempatan untuk merasakan dan menyaksikan semua
kebesaran Nya ini. Diri saya begitu hina, persis seperti binatang
paling hina yang dikalungi mutiara paling berharga. Saya tidak
menyadari betapa bernilainya mutiara itu dan saya masih tetap bermain
dengan lumpur. Begitu hinanya saya.

Tapi, justru dari kehinaan itu, saya telah diangkat Nya, saya diberi
Nya kesempatan untuk menyaksikan dan merasakan langsung kebesaran
Nya. Bertubi - tubi, Dia berikan energi pengampunan, dia bersihkan
saya dari lumpur kehinaan saya. Dia selimuti saya dengan energi
Rahman Rahim Nya yang luar biasa. Teguran keras Nya benar - benar
menjadi berkat yang luar biasa bagi saya.

Seolah - olah Dia berkata kepada saya: "Betapapun kotor dan hinanya
kamu, betapapun busuknya kamu karena dosa - dosamu, kalau Aku
menginginkan engkau bersih, maka seketika itu juga jadilah engkau
bersih". Maka, teringatlah saya bahwa: "Teratai yang indah itu justru
muncul dari dalam lumpur".

Lebih dari 3 minggu setelah kejadian itu, saya terus merenungkan diri
saya. Setiap kali saya mengingat kejadian itu, air mata saya akan
mengalir, sama seperti derasnya air mata saya pada saat membagikan
pengalaman ini di milis ini. Banyak pengertian yang muncul dalam diri
saya karena kejadian itu.

Salah satu nya adalah tentang kenapa saya sampai di Sirnagalih ini
dan malahan diterima bergabung dalam wahana team inti Sirnagalih,
padahal diri saya ini demikian hinanya. Jawabannya ada pada judul
message saya ini, yaitu: "Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah
yang telah memilih kamu". Jadi, bukan saya yang memilih untuk ikut
Sirnagalih dan menjadi anggota team inti Sirnagalih, tapi justru Dia
lah yang telah memilih saya, karena apapun yang Dia kehendaki,
semuanya pasti akan terjadi.

Sudah dulu yaa ... nggak tahan nih, sudah habis 3 lembar tissue untuk
membendung air mata. Nggak enak dilihat sama yang lain.

Salam,
Antonius Suryajaya

Tubuh yang wangi

Salam Sirnagalih,

Pengalaman ini berawal dari sebuah kejadian yang 'aneh' (menurut
saya, lho) pada saat saya mengobati seorang pasien di rumahnya.
Kebetulan rumahnya tidak begitu bagus, berada di pinggir selokan
sehingga banyak sekali nyamuk 'nakal' nya. Kebetulan waktu itu
mendekati senja, sehingga para nyamuk rame mencari mangsa. Banyak
sekali nyamuk yang beterbangan dan mengelilingi kami berdua sepanjang
prosesi pengobatan itu.

Kondisi saya waktu itu baru lepas dari kantor, masih berpakaian
kantoran. Lagipula, saya baru pertama kali mengunjungi dia, sehingga
saya sama sekali tidak punya persiapan untuk menghadapi para nyamuk
itu.

Karena saya mencurahkan seluruh kesadaran saya pada prosesi
pengobatan maka saya terpaksa untuk tidak mempedulikan nyamuk -
nyamuk itu. Anehnya, sampai dengan selesainya prosesi pengobatan itu,
tidak ada seekor nyamuk pun yang menyentuh saya, sementara si pasien
mendapatkan serangan bertubi - tubi dari para nyamuk sehingga tangan
dan kakinya penuh dengan bentol - bentol merah akibat serangan para
nyamuk itu.

Bagi saya, kejadian ini menjadi sebuah misteri. Misteri ini terus
menempel dalam ingatan saya sampai akhirnya seorang teman
menceritakan sesuatu kepada saya tentang wangi yang terpancar dari
diri saya. Awalnya, dia bertanya ke saya apakah saya sering
menggunakan dupa. Saya memang punya hio (dupa China) aromaterapi di
meja saya, yang saya beli di toko Valu$ (serba 5000). Tapi, hio itu
sudah lama tidak saya bakar.

Lalu, saya juga tidak suka menggunakan wangi - wangian. Menggunakan
wangi - wangian sekali setahun pun sudah merupakan kejadian luar
biasa bagi saya. Mencuci baju pun tidak menggunakan wangi - wangian
untuk baju. Menyimpan baju di lemari pun, yang saya gunakan cuma
kapur barus biasa. Jadi, praktis saya sama sekali tidak bersinggungan
dengan wangi dupa, setidaknya dalam kurun waktu 1 bulan sebelum teman
itu bertanya.

Dengan guyon, saya sanggah pertanyaan teman itu: "Akh, cuma perasaan
kamu saja kali ..?" Dia pun langsung menyanggah balik: "Banyak teman
lain yang juga merasakannya, koq..", begitu katanya dengan raut wajah
yang kelihatan serius.

Langsung saya teringat dengan cerita Guru bahwa "sehabis puasa dan
ngebleng, tubuh kita akan wangi". Kebetulan, kejadian nyamuk di atas
terjadi 2 hari setelah saya selesai melakukan ngebleng Agustus
kemaren. Mungkin wangi dupa itulah yang membuat nyamuk - nyamuk itu
enggan menyentuh saya. Dan, kalau memang benar wangi itu tidak datang
dari luar tubuh saya, berarti wangi itu terpancar dari dalam tubuh
saya yang baru saja menyelesaikan puasa dan ngebleng di RSS Tulodong.

Sayapun teringat dengan pesan Guru bahwa "Kita sendiri mungkin tidak
merasakan perubahan pada diri kita, tapi orang lain akan merasakan
perubahan itu".

Salam,
Antonius Suryajaya

Berdoa

Ketika manusia berada dalam kondisi senang, secara sadar maupun tidak sadar, dia cenderung mengurangi kegiatan berdoanya. Tapi, ketika dia ditimpa kesulitan, sadar atau tidak sadar, dia menambah kegiatan berdoanya. Masalahnya, ketika sedang mengalami kesusahan, mereka merasa doa mereka tidak pernah didengarkan. Akibatnya, mereka merasa Tuhan itu sangat jauh sekali dari mereka dan mereka merasa kesepian.

Ketika kita katakan kepada mereka bahwa kesusahan yang mereka alami sekarang disebabkan oleh doa mereka di masa lalu, mereka akan mengatakan: "Apa dosaku sehingga aku harus mengalami hal seperti ini?".

Ketahuilah bahwa setiap doa kita pasti akan dijawab dan pasti akan terwujud. Masalahnya adalah kita tidak sadar ketika doa itu dikabulkan karena kita tidak menyadarinya. Kita hanya menyadari sesuatu yang kelihatan 'wah' atau 'aneh'. Tapi kita tidak menyadari terwujudnya doa dalam kehidupan sehari-hari yang terasa 'biasa-biasa' saja. Hanya orang - orang tertentu saja yang menyadari bahwa apa yang mereka alami sekarang sepenuhnya adalah hasil dari doa mereka di masa yang lalu. Itupun biasanya terbatas pada hal - hal yang mengenakkan saja.

Banyak orang yang berusaha mencari jalan agar doa mereka menjadi ampuh dan bisa terwujud dalam waktu singkat, tapi hanya segelintir orang yang berusaha mencari kapan doa mereka mencapai perwujudannya. Seampuh apapun sebuah doa, kalau kita tidak menyadari perwujudannya, maka doa itu tetap saja dianggap tidak ampuh. Doa yang dianggap ampuh hanya sebatas mukjijat dan mukjijat itu tidak selalu terjadi. Padahal, perwujudan doa ada di mana - mana dan terjadi setiap saat. Itulah sebabnya kenapa ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mendengar dan Tuhan tidak pernah tidur. Dia mengabulkan doa setiap umatnya kapan saja dan di mana saja.

Permasalahan pertama yang dilakukan oleh orang yang berdoa adalah bahwa mereka tidak mengerti keinginan mereka sendiri. Mereka tidak mengerti apa yang mereka inginkan dan mereka tidak mengerti apa yang mereka minta. Sebagian besar orang berdoa meminta berdasarkan gengsi, nafsu, dan egoisme mereka.

Seorang karyawan dengan gaji pas-pasan berdoa meminta sebuah mobil untuk mereka sendiri. Karena suatu mukjijat, dia memperoleh mobil yang dia inginkan. Kemudian dia menjadi begitu sayang dengan mobilnya sehingga dia rela memberikan sekian meter persegi dari rumahnya untuk menjadi tempat penyimpanan mobilnya. Pengorbanan untuk mobil itu mengakibatkan dirinya dan keluarganya tidur sempit - sempitan. Dalam jangka panjang, mereka akan menderita hanya karena keinginan untuk memiliki sebuah mobil.

Itu hanya satu contoh. Ada banyak contoh di dalam masyarakat kita yang memperlihatkan bahwa sebuah doa bisa menyebabkan penderitaan bagi yang memintanya. Ketika doa itu dikabulkan dan mereka menderita karenanya, mereka mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil.

Alangkah baiknya sebuah doa yang mengangkat derajat kita sebagai manusia dan menjadikan hidup kita lebih enak dan lebih menyenangkan. Untuk itu, kenalilah terlebih dahulu keinginan Anda. Renungkan dan pikirkan dengan matang keinginan Anda itu. Jangan menambah penderitaan Anda dengan keinginan yang timbul dari gengsi, nafsu, dan egoisme.

Doa juga perlu didorong dengan semangat. Kekuatan yang muncul dari semangat akan membuat doa kita semakin dekat dengan perwujudannya. Doa tanpa semangat sama seperti ketika kita membaca sebuah cerita rakyat. Ketika membaca sebuah cerita, kita tidak perlu membangkitkan semangat kita karena apa yang ada dalam cerita itu adalah sesuatu yang sudah terjadi. Sedangkan doa adalah sesuatu yang akan terjadi.

Doa juga harus disertai dengan rasa. Rasa yang dimaksud adalah rasa senang dan bahagia yang muncul ketika doa itu mencapai perwujudannya. Memiliki rasa dari doa itu sama seperti kita mendapatkan bayangan dari apa yang kita inginkan. Ada bayangan berarti ada wujudnya. Dengan mendapatkan bayangan, maka mendapatkan wujudnya hanya tinggal menunggu waktu.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa ada doa yang bisa diucapkan dengan kata-kata, tapi ada juga doa yang tidak bisa diucapkan dengan kata - kata, tapi hanya bisa digambarkan. Contohnya ketika Anda menginginkan sebuah mobil dengan warna coklat. Kalau Anda hanya mengatakan warna coklat, akan ada banyak variasinya. Ada coklat muda, ada coklat tua, ada coklat susu, ada coklat metalik, dan sebagainya. Tapi kalau Anda bayangkan warna coklat yang Anda inginkan, maka Anda tahu warna apa yang Anda inginkan.

Terakhir, kirimkanlah doa Anda itu ke alam karena ada Tuhan di sana. Katakan kepada Tuhan bahwa inilah yang Anda inginkan. Tegaskan doa Anda itu dengan ucapan 'Amin' atau 'Terjadi' atau apapun yang Anda ketahui untuk mengakhiri doa Anda.

Selanjutnya, berjaga-jagalah karena doa Anda bisa terwujud kapan saja dan dalam kondisi yang tidak Anda duga - duga. Bersiaplah selalu dan waspadalah selalu. Jangan ragu untuk mengulangi doa Anda agar semakin dekat perwujudannya ke diri Anda.

Senin, 23 Februari 2009

Kaya vs. Miskin

Membicarakan kaya dan miskin, kalau kita pakai teknik 4 kwadran, kita akan menemukan 4 kelompok manusia sebagai berikut:

Kaya tapi miskin
Pada masa sekarang, banyak orang masuk dalam kwadran ini. Dia memiliki deposito besar, rumah yang besar, dan sebagainya. Tapi hatinya tidak pernah puas. Dia masih gemar melakukan hal - hal yang kurang baik untuk kepentingan pribadi. Tangannya malas untuk memberi. Jadi, kalau diibaratkan, tangannya jauh lebih mudah untuk menadah daripada memberi. Itulah orang yang kaya secara fisik tapi miskin secara batin.

Miskin dan miskin
Sudah miskin secara fisik, miskin pula batinnya. Kasihaann deh, elu. Mending ke laut aja deh.

Miskin tapi kaya
Nah, ini juga salah satu penyakit orang jaman sekarang. Dia miskin secara fisik, tapi mengaku kaya secara batin. "Saya kaya di dalam batin", gitu kata dia. Tapi lihat kelakuan dia. Dia menyodorkan tangannya untuk meminta sesuatu. Meminta adalah perbuatan orang miskin. Orang seperti ini lebih cocok masuk dalam kwadran "miskin dan miskin". Orang yang sungguh layak masuk kwadran ini sangat langka di dunia ini. Saya pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Secara duniawi, dia sangat miskin. Tapi, ketika bertemu dengan beliau, beliau berjuang untuk memberikan apa yang dimilikinya supaya saya menerimanya. Bukan basa - basi, dia benar - benar gigih berjuang (bukan cuma berusaha) untuk memberi, padahal di mata orang awam dia justru pantas untuk diberi. Manusia seperti itu memang layak dimasukkan ke dalam kwadran ini.

Kaya dan kaya
Sepertinya tidak perlu diperjelas lagi siapa yang layak masuk ke dalam kwadran ini, yaitu orang yang bukan hanya kaya secara duniawi tapi juga kaya secara batin. Tangannya selalu dia gunakan untuk memberi dan memberi. Dengan demikian, dia akan menerima efek balik dari setiap pemberiannya seperti bola salju. Dia benar - benar bisa menerapkan prinsip bahwa dengan memberi dia tidak akan menjadi miskin malahan kekayaannya akan selalu bertambah.

Mencari Kebahagiaan

I've been to paradise,
But I've never been to me

Wah .. wah ...

Bait lagu di atas merupakan potongan lagu dengan judul I've never been
to me, yang dinyanyikan oleh Charlene di tahun 1980-an. Isi lagunya
menceritakan bahwa dia sudah berkelana ke mana-mana, tapi dia tetap
kesepian.

Dia bertanya:
Hey, you know what paradise is?
It's a lie, a fantasy we create about people and places as we'd like
them to be
But you know what truth is?
It's that little baby you're holding, it's that man you fought with
this morning
The same one you're going to make love with tonight
That's truth, that's love......

Perjalanan mencari kebahagiaan memang melelahkan, memboroskan banyak
waktu, tenaga, dan biaya. Tapi, apakah Anda sudah menemukan si
kebahagiaan itu ? 25 tahun sudah alumni DB84 melanglang buana. Apakah
sudah menemukan kebahagiaan sejati ..? Bagi yang menjawab "sudah",
tanyakan apakah kebahagiaan yang didapatkan itu berlangsung selamanya
atau cuma singkat dan sesaat, karena kebahagiaan sejati itu akan
berlangsung selamanya, beda banget dengan kebahagiaan sesaat.

Lalu, di mana kebahagiaan sejati itu ..? Apakah dia suka main petak
umpet dengan kita ..?

[Ha .. ha .. ha ... Eh, tahu nggak, si Kebahagiaan itu pernah ngomong
gini: "Hei ... itu si Anton, saya mau sembunyi akh ... biar dia sibuk
mencari saya. Hahaha ... rasain luh, gue kerjain".]

Akhirnya, si Charlene sadar bahwa kebahagiaan itu ada di dalam diri.
Makanya, sejauh apapun dia berjalan, dia tidak akan menemukannya.
Bahkan, dia ngaku pernah ke Paradise. Di sanapun dia tidak menemukannya.

Oleh karena itu, dia kemudian mengatakan: "I've been to paradise, But
I've never been to me" (aku bahkan sudah ke Paradise, tapi aku sama
sekali belum pernah berkunjung ke diriku sendiri). Oh my God ...
Kecian banget dia ...

Ada yang bilang: Perjalanan yang paling panjang, yang paling
melelahkan, yang paling lama, yang paling mahal (padahal nggak pakai
ongkos), tapi yang paling menyenangkan adalah perjalanan ke dalam diri
sendiri.

Sudah pernah coba ...?

Dualisme

Pada masa sekarang ini, banyak sekali manusia senang menilai. Yang ini salah, yang ini benar, yang ini buruk, yang ini bagus, yang ini perlu, yang ini tidak perlu, dan sebagainya. Bukan hanya berhenti pada penilaian, tapi juga sudah sampai pada tingkat penghakiman. Yang merasa benar menghakimi mereka yang dianggap bersalah, padahal yang disalahkan itupun merasa kalau mereka benar. Situasi seperti ini semakin lama membuat kehidupan bermasyarakat menjadi semakin membingungkan. Pada akhirnya, kondisi masyarakat mengarah kepada masa barbarian ketika hukum rimba menjadi hukum satu-satunya yang berlaku di dalam masyarakat.

Seandainya kita duduk sejenak dan kita renungkan dengan kepala dingin, sebenarnya darimanakah asalnya benar dan salah, baik dan buruk itu? Kenapa manusia sekarang senang sekali menilai bahkan sampai menghakimi ?

Di dalam agama Kristen atau Katolik, yang kitab sucinya disebut Alkitab, dalam kitab Kejadian bab 1 yang menceritakan tentang penciptaan dunia, dikatakan bahwa Tuhan melihat semuanya adalah baik adanya. Kata - kata itu diulang sebanyak 5 kali dalam 1 bab yang singkat ini. Tuhan melihat segalanya adalah baik (bahkan sangat baik) adanya.

Jadi, sang Pencipta pun telah melihat bahwa semua yang telah diciptakanNya itu baik adanya. Pertanyaannya: apakah semua yang ada di alam ini adalah hasil ciptaan Tuhan ? Apakah ada di antara manusia yang berani mengatakan bahwa ada sesuatu di alam ini yang bukan merupakan hasil ciptaan Tuhan ? Kalau ada, coba katakan, supaya saya juga tahu bahwa ada yang bukan diciptakan oleh Tuhan.

Kalau segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan Tuhan, dan karena Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa segalanya itu baik adanya, maka semua yang ada di dalam alam ini tentunya baik adanya. Ya, segalanya adalah baik adanya.

Lalu, kenapa ada manusia yang bisa mengatakan bahwa yang ini baik dan yang itu buruk ? Apakah manusia itu lebih pintar daripada Tuhan yang telah menciptakannya, sehingga dia berani melakukan koreksi atas ucapan Tuhannya ?

Kalau kita renungkan lebih dalam lagi, menilai benar dan salah itu sama seperti kita melihat kepingan mata uang dari sebelah sisi saja. Kalau sisi terangnya yang kita lihat, maka keseluruhan kepingan mata uang itu akan terlihat terang. Tapi, kalau kita melihatnya dari sisi gelapnya, maka keseluruhan kepingan mata uang itupun akan terlihat gelap.

Demikian juga halnya kalau kita melihat suatu hal dari sisi baiknya, maka hal itu akan terlihat baik. Sebaliknya, kalau kita melihatnya dari sisi buruknya, maka hal itupun akan terlihat buruk secara keseluruhan. Padahal, kalau kita mau melihatnya secara lebih lengkap, maka kita bisa melihat hal itu secara lebih lengkap.

Sekarang, kalau kita merenungkan lebih dalam lagi, sebenarnya siapa atau apa yang menyebabkan kita cenderung melihat sesuatu dari sisi baiknya atau dari sisi buruknya ? Ya, pola pikir kitalah yang mengarahkan kecenderungan kita dalam menilai segala sesuatu. Apabila pola pikir kita positif, maka segala sesuatu yang kita lihat akan terlihat positif dan baik. Sebaliknya, apabila pola pikir kita negatif, maka segala sesuatu yang kita lihat akan terlihat negatif dan tidak menyenangkan.

Jadi, pola pikir kitalah yang menciptakan dunia kita. Ketika pola pikir positif yang kita gunakan, maka dunia kita akan terlihat baik dan menyenangkan. Ketika pola pikir negatif yang kita gunakan, maka dunia kita akan terlihat buruk, serba salah, dan tidak menyenangkan. Itulah kekuatan pikiran manusia. Pikiran manusia menciptakan dunianya.

Lalu, kembali kepada sang Pencipta yang telah menciptakan segalanya dalam keadaan baik adanya, apakah benar segala sesuatu yang ada di dalam alam ini adalah baik adanya ? Ya, sudah tentu. Alam semesta ini beserta isinya menjadi baik adanya bagi orang yang berpikiran baik, sehat, dan positif. Dengan demikianlah manusia bisa menciptakan surga di atas dunia ini, yaitu dengan melatih pikiran yang baik, sehat, dan positif.

Kalau manusia dilatih untuk berpikiran tidak sehat dan cenderung negatif, maka bersiaplah untuk menemukan neraka di atas dunia.

Tapi, jangan lupa bahwa neraka itupun adalah ciptaan Tuhan yang sudah barang tentu baik adanya, karena bermanfaat sebagai sarana belajar bagi manusia. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi untuk mencapai kesempurnaannya sebagai manusia.