Salam Sirnagalih,
Bagi para peserta meditasi LQ-2005, sepertinya pasti akan setuju
kalau dikatakan bahwa puncak rangkaian meditasi LQ-2005 kemaren
terjadi pada malam ke-5, pada saat Guru menanamkan energi dari Tibet
(Himalaya) dan energi dari Mesir (Timur Tengah) ke putranya, Fali.
Sayapun setuju demikian.
Dari rangkaian 7 malam meditasi LQ-2005 ini, kejadian itulah yang
paling berkesan bagi saya pribadi, karena pada kejadian itulah saya
mengenal lebih jauh apa yang menjadi tugas seorang pembimbing seperti
Guru.
"Kembangkan dirimu dan peluklah mereka dengan seluruh ketulusan mu.
Sayangilah mereka. Lindungilah mereka. Jangan pernah meninggalkan
mereka. Mereka tidak tahan kepanasan dan kedinginan. Mereka masih
lemah. Engkau kuat. Janganlah engkau biarkan mereka menderita,
janganlah engkau tinggalkan mereka".
Begitulah potongan pembicaraan antara Guru dengan putranya yang baru
saja 'dibaptis' nya. Dari pembicaraan itulah saya bisa mengenal lebih
dalam tentang apa yang selama ini telah dijalani oleh Guru dalam
rangka membimbing murid - muridnya. Begitu besar kasih sayangnya
kepada kita semua. Begitu berat tugas yang dipikulnya.
Pada saat itu, saya hanya bisa berucap: "Oooo, begitu tokh ..." di
dalam hati.
Rupanya, itulah jawaban dari apa yang Guru ungkapkan pada hari
pertama meditasi LQ-2005 tentang 'tugas' yang diberikan oleh alam.
Dan, kejadian inipun nyambung dengan apa yang Guru sampaikan kepada
saya beberapa hari sebelum rangkaian meditasi LQ-2005 dan sebelum
program SMS Sirnagalih diluncurkan. "Pembinaan orang itu sangatlah
berat. Apalagi membina orang untuk meningkatkan kesadaran nya. Habis -
habisan kita mengerahkan segala daya upaya, tapi hasilnya sangat jauh
dari yang diharapkan", begitulah curahan hati Guru pada saat itu.
Mendapatkan pencerahan pada malam itu, tidak ada kata yang pantas
untuk diucapkan atas segala jerih payah dan perjuangan Guru untuk
membina kita semua, yang telah mengorbankan bukan cuma materi,
tenaga, dan waktu, tapi juga telah mempertaruhkan nyawanya sendiri
untuk membina kita semua. Hanya inilah yang bisa diucapkan: "Terima
kasih, Guru... Tidak ada lagi kata - kata yang bisa kami ucapkan atas
rasa syukur dan terima kasih ini. Terima kasih banyak untuk
semuanya". Semua jerih payahmu tidak akan pernah sia - sia, Guru.
Salam,
Antonius Suryajaya