Malam hari, ketika aku kembali dari tempat meditasi Sirnagalih - Tulodong menuju rumahku di daerah Gading Serpong. Seperti biasa, aku melewati simpang Tomang, masuk ke jalan tol Kebun Jeruk mengarah ke Tangerang. Dan seperti biasa juga, aku ditemani oleh mobil Suzuki Aerio ku yang setia.
Malam sudah larut, melewati jam 12 malam. Kondisi jalan sudah sepi. Demikian juga ketika aku memasuki jalan tol Tomang - Kebun Jeruk. Jarum speedometer di mobilku hampir menyentuh angka 100 ketika itu. Kondisi jalan sepi. Hanya ada satu dua kendaraan berjalan.
Di depanku ada 1 buah mobil Kijang Innova warna gold (kuning metallic) berjalan dengan kecepatan yang tidak berbeda dengan mobilku. Melihat ke kaca spion, aku melihat di belakangku ada 1 buah mobil Kijang Innova lainnya dengan warna yang sama. Dia juga berjalan dengan kecepatan yang tidak berbeda dengan mobilku. Bertiga kami beriringan susul menyusul seperti rangkaian kereta api saja layaknya.
Bertiga kami terus melaju dan speedometer di mobilku pun sudah melewati angka 100. Ketika mobil di depanku belok ke kanan untuk menghindari kendaraan yang lain, maka aku mengikutinya dengan gerak reflek. Setelah itu, mobil di belakangku juga mengikuti aku.
Kilometer 1 telah kami lewati dengan kecepatan tinggi, tanpa ada masalah dan hambatan sama sekali. Bertiga kami meliak-liuk seperti ular, melewati mobil lain dan terus melaju ke depan. Akhirnya kami bertiga beriringan di jalur paling kanan ... Jalur cepat ...
Malam yang sudah larut, jalan yang gelap. Di depanku ada Kijang Innova yang notabene lebih besar daripada mobil Suzuki Aerio ku. Sedikit tidak, dia memang menghalangi pandanganku. Tapi, apabila ada kendaraan di depan, aku bisa melihat cahaya lampunya walaupun terhalang oleh mobil di depanku.
Kilometer 2 pun terlewati dengan cepatnya. Dan kami bertiga sekarang kembali berada pada jalur paling kanan. Jalur cepat ...
Mendadak tanpa ada tanda - tanda kehadiran sebuah kendaraan di depan karena tidak ada lampu kendaraan di depan mobil Kijang Innova tersebut. Begitu mobil tersebut berpindah ke jalur kiri, aku bisa melihat dengan jelas ke arah depan.
YA AMPUN ... terkaget aku. Sangat kaget ... Di depanku, dalam jarak kurang dari 10 meter, ada seorang wanita berjalan membelakangi mobil dengan santainya. Dia berjalan di tengah jalan, di jalur cepat tersebut.
Otakku langsung berpikir: Kalaupun aku menginjak rem sekeras-kerasnya, dia tetap akan tertabrak keras. Aku tidak boleh menginjak rem. Percuma... Aku harus segera pindah ke jalur kiri mengikuti mobil Kijang Innova di depan.
Reflek aku membanting setir ke arah kiri. Setelah membanting setir, baru aku tersadar bahwa aku harus melihat kaca spion terlebih dahulu agar tidak bertabrakan dengan mobil lain yang mungkin ada di jalur kiri.
Terima kasih, Tuhan. Jalur kiri sedang kosong melompong. Aku selamat berpindah jalur walaupun mobilku sempat miring ke kiri dan berjalan dengan 2 roda saja. Tapi sekarang mobilku sudah tenang kembali.
Teringat aku dengan mobil Kijang Innova yang ada di belakangku. Dia juga pasti kaget setengah mati seperti aku. Seperti sudah terduga, dia tidak sempat menghindari wanita tersebut. Suara rem menjerit keras dan langsung disusul dengan 'bbbuuukkkkkk', suara tabrakan tubuh manusia sedemikian kerasnya.
Dengan kecepatan di atas 100 km per jam dan wanita itu berjalan dengan pelan, aku tidak bisa membayangkan akibatnya. Yang jelas, tidak ada suara teriakan sama sekali dari wanita tersebut. Dia sudah siap mati dan dia memang ingin bunuh diri. Terlihat dengan jelas dari cara dia berjalan membelakangi mobil di jalur cepat di daerah sudah lebih dari 2 km dari simpang Tomang. Di daerah situlah mobil sudah mencapai kecepatan yang tinggi.
Terbayang bagaimana besarnya masalah yang menimpa pengendari mobil Kijang Innova di belakangku. Aku tidak sanggup memikirkannya. Aku menurunkan kecepatan mobilku dan melanjutkan perjalanan dengan pikiran campur baur. Terbayang bagaimana kalau aku yang menjadi supir mobil Kijang Innova itu, masalah apa yang harus aku tanggung.
Terima kasih Guru karena aku sudah dihindarkan dari masalah ini.
Selasa, 12 Juli 2011
Jumat, 21 Januari 2011
Mungkinkah orang seperti Jesus akan mati disalib?
Agamaku memang Katolik, yang menitikberatkan ajarannya pada Jesus, sampai - sampai Jesus mendapatkan gelar 'Tuhan' di dalam agama ini. Tapi, pengalaman dan perjalanan hidupku menimbulkan sebuah pertanyaan yang tidaklah 'mudah' untuk mendapatkan jawabannya: "Mungkinkah orang seperti Jesus bisa mati di kayu salib?".
Setidaknya, ada 3 hal yang menentang kemungkinan tersebut, sesuai dengan pengalaman dan perjalanan hidupku, yaitu:
Tubuh Jesus yang suci
Apabila memang Jesus sudah mencapai tingkatan 'suci', maka dengan sendirinya tubuh fisiknya pun akan menjadi 'suci'. Artinya, tubuh fisiknya tidak akan mudah (bahkan tidak bisa) dirusak oleh senjata apapun.
Mari kita ingat kembali salah satu pengalaman yang dialami oleh Gusti Pangeran Yang Mulia Haris seperti yang dialami beliau ketika berkunjung ke daerah Majapahit Lama. Ketika itu, beliau sedang berbicara di hadapan para sesepuh di sana tentang manusia dan hati nurani.
Sekonyong - konyong muncul seseorang di belakang beliau dengan belati sepanjang kurang lebih 20 cm di tangannya, langsung menusuk punggung Gusti Pangeran. Tusukan belati sepanjang itu masuk ke dalam badan beliau. Menurut perhitungan awam, tusukan itu menusuk jantung beliau.
Ketika belati itu masuk ke dalam tubuh beliau, beliau pun merasakan sakit yang luar biasa dan darah mengucur deras keluar dari luka yang ditimbulkan dan membasahi baju beliau. Baju beliau yang sobek oleh tusukan belati itu pun bersimbah darah, memerah oleh darah yang mengalir deras keluar dari luka tusukan belati tersebut.
Tapi, begitu belati itu dicabut keluar dari tubuh beliau, seketika itu juga luka tusukan itu lenyap. Daging yang sobek itu telah menyatu kembali dan kulit yang terluka oleh tusukan belati itu telah kembali ke bentuk awalnya seolah - olah tidak pernah terjadi apa-apa pada daging dan kulit tersebut. Yang tersisa hanyalah baju yang sobek dan bersimbah darah.
Kalau mau diberi istilah, mungkin istilah yang tepat untuk itu adalah 'regenerasi seketika'. Ya, regenerasi seketika. Kemampuan regenerasi seketika itu ada dalam tubuh manusia. Semakin tinggi tingkat kesuciannya, akan semakin tinggi pula kemampuan regenerasi seketika yang muncul dalam tubuhnya.
Oleh karena itu, kalau memang Jesus memiliki tingkat kesucian yang tinggi (karena dia diyakini sebagai manusia yang suci, bahkan mendapatkan gelar Tuhan), maka dia pasti memiliki kemampuan regenerasi seketika di dalam dirinya.
Karena, seorang Tuhan pasti akan dilindungi oleh bumi dan alam ini. Oleh karena itu, tidak akan ada sesuatupun di atas bumi ini yang bisa mampu melukai atau merusak tubuh seorang Tuhan. Bukan atas kehendak sang Tuhan itu sendiri, tapi atas kehendak bumi dan alam ini yang akan melindungi Tuhan nya sendiri.
Roh Jesus yang suci
Bumi dan alam akan melindungi Tuhannya sendiri. Oleh karena itu, seorang manusia yang sudah mencapai tingkat kesucian yang tinggi, maka (apabila memang dia akan mati) maka dia akan terhindar dari 10 macam penyebab kematian, antara lain:
Mati karena penyakit, mati karena pembunuhan, mati dalam kecelakaan, mati dalam peperangan, mati karena kelaparan, mati karena disantet, dan sebagainya.
Menurut cerita yang sering disampaikan oleh Gusti Pangeran Yang Mulia Haris, kematian seorang yang suci sebenarnya tidak ada. Orang yang sudah suci adalah orang yang sudah mencapai keabadian. Mereka sudah terlepas dari lingkaran kelahiran - kematian. Tubuh mereka telah mencapai keabadian.
Oleh karena itu, semua cerita tentang kematian seorang yang 'suci' sebenarnya bukanlah cerita kematian biasa. Mereka tidak mati, tapi mereka hanya melakukan proses 'ganti baju'. Itulah istilah yang digunakan oleh Gusti Pangeran untuk menyebutkan apa yang disebut kematian bagi manusia yang sudah sampai pada tingkatan 'suci'.
Jadi, karena Jesus adalah seorang yang suci (bahkan sudah mendapatkan julukan Tuhan), maka setidaknya dia tidak akan mati dalam usia yang relatif masih muda dengan cara dibunuh di kayu salib. Roh yang suci dan tubuh yang suci tidak akan mati dengan cara seperti itu.
Kekuatan Penyembuhan Jesus
Di dalam banyak cerita dalam Kitab Suci, terlihat dengan jelas bahwa Jesus mempunyai kemampuan penyembuhan yang luar biasa besar. Bahkan ada cerita yang memperlihatkan bahwa Jesus mampu menyembuhkan manusia hanya dengan menyentuh jubahNya saja. Beberapa tokoh suci juga mempunyai kemampuan seperti itu.
Kemampuan menyembuhkan orang lain muncul dalam diri seorang manusia karena dia memiliki kekuatan penyembuhan di dalam dirinya. Kekuatan penyembuhan itu memancar keluar dari dirinya sampai sekian jauh dari tubuh fisiknya. Oleh karena itu, setiap orang yang berada di dalam radius pancaran kekuatan penyembuhan itu bisa mendapatkan manfaat penyembuhan darinya.
Bukan hanya orang lain yang akan mendapatkan manfaat dari pancaran kekuatan penyembuhan itu, tapi juga tubuh fisik sang Penyembuh pun akan mendapatkan manfaatnya. Tubuh fisik sang Penyembuh akan senantiasa terjaga sehat dari waktu ke waktu. Bila ada luka pada kulit, maka luka itupun akan sembuh dalam waktu relatif singkat, bahkan bisa sembuh seketika (regenerasi seketika).
Contoh kasus nya tidak perlu jauh - jauh. Di dalam diriku sendiri ada kekuatan penyembuhan seperti itu, walaupun skalanya jauh di bawah para tokoh terkenal dalam praktek penyembuhan seperti ini. Kekuatan di dalam diriku ini sudah mengobati banyak manusia, bahkan ada yang terselamatkan dari ancaman kematian.
Kekuatan yang terpancar dari dalam diriku ini juga berpengaruh pada diriku sendiri. Sudah belasan, bahkan lebih dari 20 tahun aku bekerja tanpa ada 1 haripun aku meminta ijin tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Dalam usiaku yang sudah mencapai 46 tahun ini, dengan fisik yang sangat jarang berolah-raga, aku masih tetap sehat.
Apabila kulitku terluka, aku tidak pernah cemas karena aku tahu kalau luka itu akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu yang singkat. Aku hanya perlu mengusap-usap kulitku yang terluka, maka dia akan sembuh sendiri bahkan tanpa bantuan obat luka sekalipun.
Jadi, karena Jesus memiliki kekuatan penyembuhan yang sedemikian besar, maka semua luka penyiksaan dalam proses penyaliban itu pasti akan sembuh dalam waktu yang relatif singkat. Apalagi karena tubuh Jesus sudah mencapai tingkat kesucian tinggi, maka dia pasti memiliki kemampuan 'regenerasi seketika'.
Kesimpulan
Nah, berdasarkan 3 hal di atas, saya menjadi semakin ragu kalau orang seperti Jesus akan mati di salib. Rasanya, tidak mungkin Jesus akan mati di salib, walaupun memang dia menginginkannya. Karena, bumi dan alam ini tidak akan membiarkan tubuh Tuhan nya rusak dan hancur. Tidak akan ada sepotong besipun di bumi ini yang mampu membunuh Tuhan nya sendiri.
Setidaknya, ada 3 hal yang menentang kemungkinan tersebut, sesuai dengan pengalaman dan perjalanan hidupku, yaitu:
Tubuh Jesus yang suci
Apabila memang Jesus sudah mencapai tingkatan 'suci', maka dengan sendirinya tubuh fisiknya pun akan menjadi 'suci'. Artinya, tubuh fisiknya tidak akan mudah (bahkan tidak bisa) dirusak oleh senjata apapun.
Mari kita ingat kembali salah satu pengalaman yang dialami oleh Gusti Pangeran Yang Mulia Haris seperti yang dialami beliau ketika berkunjung ke daerah Majapahit Lama. Ketika itu, beliau sedang berbicara di hadapan para sesepuh di sana tentang manusia dan hati nurani.
Sekonyong - konyong muncul seseorang di belakang beliau dengan belati sepanjang kurang lebih 20 cm di tangannya, langsung menusuk punggung Gusti Pangeran. Tusukan belati sepanjang itu masuk ke dalam badan beliau. Menurut perhitungan awam, tusukan itu menusuk jantung beliau.
Ketika belati itu masuk ke dalam tubuh beliau, beliau pun merasakan sakit yang luar biasa dan darah mengucur deras keluar dari luka yang ditimbulkan dan membasahi baju beliau. Baju beliau yang sobek oleh tusukan belati itu pun bersimbah darah, memerah oleh darah yang mengalir deras keluar dari luka tusukan belati tersebut.
Tapi, begitu belati itu dicabut keluar dari tubuh beliau, seketika itu juga luka tusukan itu lenyap. Daging yang sobek itu telah menyatu kembali dan kulit yang terluka oleh tusukan belati itu telah kembali ke bentuk awalnya seolah - olah tidak pernah terjadi apa-apa pada daging dan kulit tersebut. Yang tersisa hanyalah baju yang sobek dan bersimbah darah.
Kalau mau diberi istilah, mungkin istilah yang tepat untuk itu adalah 'regenerasi seketika'. Ya, regenerasi seketika. Kemampuan regenerasi seketika itu ada dalam tubuh manusia. Semakin tinggi tingkat kesuciannya, akan semakin tinggi pula kemampuan regenerasi seketika yang muncul dalam tubuhnya.
Oleh karena itu, kalau memang Jesus memiliki tingkat kesucian yang tinggi (karena dia diyakini sebagai manusia yang suci, bahkan mendapatkan gelar Tuhan), maka dia pasti memiliki kemampuan regenerasi seketika di dalam dirinya.
Karena, seorang Tuhan pasti akan dilindungi oleh bumi dan alam ini. Oleh karena itu, tidak akan ada sesuatupun di atas bumi ini yang bisa mampu melukai atau merusak tubuh seorang Tuhan. Bukan atas kehendak sang Tuhan itu sendiri, tapi atas kehendak bumi dan alam ini yang akan melindungi Tuhan nya sendiri.
Roh Jesus yang suci
Bumi dan alam akan melindungi Tuhannya sendiri. Oleh karena itu, seorang manusia yang sudah mencapai tingkat kesucian yang tinggi, maka (apabila memang dia akan mati) maka dia akan terhindar dari 10 macam penyebab kematian, antara lain:
Mati karena penyakit, mati karena pembunuhan, mati dalam kecelakaan, mati dalam peperangan, mati karena kelaparan, mati karena disantet, dan sebagainya.
Menurut cerita yang sering disampaikan oleh Gusti Pangeran Yang Mulia Haris, kematian seorang yang suci sebenarnya tidak ada. Orang yang sudah suci adalah orang yang sudah mencapai keabadian. Mereka sudah terlepas dari lingkaran kelahiran - kematian. Tubuh mereka telah mencapai keabadian.
Oleh karena itu, semua cerita tentang kematian seorang yang 'suci' sebenarnya bukanlah cerita kematian biasa. Mereka tidak mati, tapi mereka hanya melakukan proses 'ganti baju'. Itulah istilah yang digunakan oleh Gusti Pangeran untuk menyebutkan apa yang disebut kematian bagi manusia yang sudah sampai pada tingkatan 'suci'.
Jadi, karena Jesus adalah seorang yang suci (bahkan sudah mendapatkan julukan Tuhan), maka setidaknya dia tidak akan mati dalam usia yang relatif masih muda dengan cara dibunuh di kayu salib. Roh yang suci dan tubuh yang suci tidak akan mati dengan cara seperti itu.
Kekuatan Penyembuhan Jesus
Di dalam banyak cerita dalam Kitab Suci, terlihat dengan jelas bahwa Jesus mempunyai kemampuan penyembuhan yang luar biasa besar. Bahkan ada cerita yang memperlihatkan bahwa Jesus mampu menyembuhkan manusia hanya dengan menyentuh jubahNya saja. Beberapa tokoh suci juga mempunyai kemampuan seperti itu.
Kemampuan menyembuhkan orang lain muncul dalam diri seorang manusia karena dia memiliki kekuatan penyembuhan di dalam dirinya. Kekuatan penyembuhan itu memancar keluar dari dirinya sampai sekian jauh dari tubuh fisiknya. Oleh karena itu, setiap orang yang berada di dalam radius pancaran kekuatan penyembuhan itu bisa mendapatkan manfaat penyembuhan darinya.
Bukan hanya orang lain yang akan mendapatkan manfaat dari pancaran kekuatan penyembuhan itu, tapi juga tubuh fisik sang Penyembuh pun akan mendapatkan manfaatnya. Tubuh fisik sang Penyembuh akan senantiasa terjaga sehat dari waktu ke waktu. Bila ada luka pada kulit, maka luka itupun akan sembuh dalam waktu relatif singkat, bahkan bisa sembuh seketika (regenerasi seketika).
Contoh kasus nya tidak perlu jauh - jauh. Di dalam diriku sendiri ada kekuatan penyembuhan seperti itu, walaupun skalanya jauh di bawah para tokoh terkenal dalam praktek penyembuhan seperti ini. Kekuatan di dalam diriku ini sudah mengobati banyak manusia, bahkan ada yang terselamatkan dari ancaman kematian.
Kekuatan yang terpancar dari dalam diriku ini juga berpengaruh pada diriku sendiri. Sudah belasan, bahkan lebih dari 20 tahun aku bekerja tanpa ada 1 haripun aku meminta ijin tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Dalam usiaku yang sudah mencapai 46 tahun ini, dengan fisik yang sangat jarang berolah-raga, aku masih tetap sehat.
Apabila kulitku terluka, aku tidak pernah cemas karena aku tahu kalau luka itu akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu yang singkat. Aku hanya perlu mengusap-usap kulitku yang terluka, maka dia akan sembuh sendiri bahkan tanpa bantuan obat luka sekalipun.
Jadi, karena Jesus memiliki kekuatan penyembuhan yang sedemikian besar, maka semua luka penyiksaan dalam proses penyaliban itu pasti akan sembuh dalam waktu yang relatif singkat. Apalagi karena tubuh Jesus sudah mencapai tingkat kesucian tinggi, maka dia pasti memiliki kemampuan 'regenerasi seketika'.
Kesimpulan
Nah, berdasarkan 3 hal di atas, saya menjadi semakin ragu kalau orang seperti Jesus akan mati di salib. Rasanya, tidak mungkin Jesus akan mati di salib, walaupun memang dia menginginkannya. Karena, bumi dan alam ini tidak akan membiarkan tubuh Tuhan nya rusak dan hancur. Tidak akan ada sepotong besipun di bumi ini yang mampu membunuh Tuhan nya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)