Bulan Mei 2010, saat aku merasa kesal dengan sikap sang owner perusahaan di mana aku bekerja. Bukan aku saja yang sudah kesal, tapi banyak karyawan lain yang curhat kepada aku tentang kekesalan mereka terhadap beliau. Menganggap remeh dan tidak menghargai karyawan merupakan sumber sebagian besar kekesalan itu.
Aku harus menghadap beliau dan harus meminta tandatangan beliau untuk pembayaran perangkat PABX dan pesawat telpon untuk proyek Executive Lounge di puncak gedung yang telah dimilikinya. Tapi, aku benar - benar sudah kesal dengan sikap beliau yang sama sekali tidak menghargai usahaku untuk mendukung terwujudnya proyek mahal ini. Aku harus menemukan suatu cara untuk menundukkan keangkuhan beliau.
Memang suatu yang tidak lazim dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat jaman sekarang yang sudah tenggelam dalam apa yang mereka sebut sebagai logika. Padahal, logika mereka sama sekali tidak seimbang. Logika mereka lebih berat pada logika matematis, yang didominasi oleh otak kiri mereka. Mereka lupa bahwa mereka masih memiliki otak kanan yang bersifat abstrak.
Aku sudah diberitahu oleh Gusti Pangeran Yang Mulia Haris tentang suatu teknik untuk belajar dari siapa saja, terutama orang besar yang punya kelebihan dalam suatu hal. Teknik itu adalah teknik menyalin atau meng-copy.
Maka, pada saat pulang dari kantor, sendirian di dalam mobil, sambil menyetir mobil, aku melakukan proses penyalinan ini. Di dadaku ada kalung Sirnagalih. Di dalam kalung ini tersimpan kesadaran Gusti Pangeran Yang Mulia Haris. Aku menghubungkan diriku dengan kesadaran Beliau, minta ijin untuk mempraktekkan teknik.
Aku niatkan dalam hati untuk menyalin kepribadian seorang tokoh yang menurutku cukup kuat. Tujuanku adalah untuk mendapatkan jalan agar bisa menghadapi keangkuhan sang owner sehingga beliau tidak meremehkan aku ketika aku berhadapan dengan beliau.
Sesaat kemudian, sebuah perasaan mengalir di dalam tubuhku. Aku arahkan perasaan itu ke kepalaku dengan harapan agar kekuatan itu membuka pikiranku dan merubah pikiranku sehingga aku bisa mengerti sikap sang owner dan aku tahu cara mengatasinya.
Maka muncullah di dalam bayangan pikiranku beberapa hal yang perlu aku catat di sini sebagai pelajaran bagiku. Point - point ini memperlihatkan dengan jelas apa dan siapa sang owner itu dan bagaimana cara aku harus menghadapi dia agar dia tidak meremehkan aku. Inilah point - point yang aku dapatkan:
MEMASUKI RUANGAN
Sebagai seorang pemimpin, kita harus bisa mengukur kekuatan bawahan kita sehingga kita tidak diremehkan. Cara mengukur kekuatan bawahan dimulai dari pertama kali si bawahan bertemu atau bertamu ke kita. Apabila sang bawahan bertamu ketika kita berada di dalam ruangan, lihatlah sikapnya ketika dia masuk ke dalam ruangan. Kalau dia mengetuk pintu, berarti dia berusaha menarik perhatian kita. Kalau dia butuh perhatian kita, berarti dia menjadi lebih rendah dari kita.
Ketika dia memasuki ruangan kita, perhatikan cara dia berjalan. Kalau dia berjalan dengan kepala menunduk dan dengan langkah yang ragu, berarti dia merasa kurang percaya diri. Hal ini menjadi point tambahan bahwa kekuatan sang bawahan berada di bawah kita.
Bawahan yang kurang percaya diri, senantiasa menggunakan kata - kata yang memperlihatkan bahwa dia butuh sesuatu dari sang atasan, misalnya: "saya butuh ....". Hal ini akan menjadi point tambahan bagi kita untuk menekan dia.
Ketika dia hendak duduk, bawahan yang kurang percaya diri akan terlihat ragu untuk duduk, bahkan menunggu ijin dari kita agar dia boleh duduk. Lalu, setelah duduk, cara dia duduk juga memperlihatkan bahwa dia kurang yakin dengan apa yang dia lakukan.
Nah, sekarang bagaimana cara aku harus berlaku dan bertindak di hadapan sang owner agar dia tidak melecehkan aku.
Untuk mengatasi hal ini, aku harus memperlihatkan bahwa aku tidak membutuhkan perhatian dia. Ya, memang aku membutuhkan perhatian dia, tapi aku tidak boleh memperlihatkan hal itu kepada dia. Untuk itu, aku harus masuk ke dalam ruangan dia tanpa mengetuk pintu. Aku harus memasuki ruangannya dengan langkah yang pasti dan tidak boleh ada keraguan sedikitpun di dalam langkahku.
Agar aku tidak sampai meremehkan dia, aku harus ucapkan: "Selamat siang, pak" atau "Selamat sore, pak" sambil berjalan dengan langkah tegas dan pasti ke arah tempat duduk, lalu duduk tanpa menunggu perintah.
Ketika duduk, aku harus sepenuhnya duduk di kursi sehingga pantatku sampai menyentuh punggung kursi dan punggungku berdiri tegak. Dengan demikian, kepalaku akan berdiri tegak, tatapan mataku langsung tertuju ke depan dan langsung menatap wajah sang owner. Kepalaku tidak boleh tertunduk dan mataku tidak boleh memandang lebih rendah daripada kening sang owner.
Tatapan mataku juga harus diam dan tidak bergerak kiri kanan atau atas bawah. Tatapan mata harus diam, tenang, tegas dan tidak ada keraguan sama sekali. Arahkan tatapan langsung ke kening beliau.
CARA BICARA
Ada 5 hal yang harus diperhatikan dalam cara berbicara:
1. Gunakan kata - kata yang tegas dan tidak menunjukkan bahwa aku membutuhkan beliau, seperti: "Tagihan ini sudah harus ditandatangani ...", bukannya "saya butuh tandatangan bapak untuk tagihan ini". Ucapan yang pertama terasa tegas dan tidak bisa ditawar. Tapi ucapan kedua untuk masih memberi kesempatan pada beliau untuk berkelit atau menunda.
2. Ketika berbicara, pastikan bahwa beliau siap mendengarkan kita. Jangan berbicara ketika beliau sedang mengurus ini atau itu atau sedang mencari ini atau itu. Kalau beliau sedang mengurus ini atau itu, kita harus diam sambil menatap lurus ke beliau. Biarkan beliau bertingkah sesukanya. Kita harus tetap diam sampai beliau selesai dengan tingkahnya.
3. Ketika berbicara, jangan mengulang apa yang sudah kita katakan. Biasanya beliau akan mengeluarkan suara: "Haaa ..?" atau "Apa ..?" dengan nada seolah tidak mendengar ucapan kita. Ketika beliau bertingkah seperti itu, jangan mengulang kata-kata kita. Diamlah sambil tetap menatap tajam ke beliau. Jangan takut kalau maksud kita tidak ditangkap oleh beliau karena sebenarnya beliau sudah mendengarnya.
4. Jangan mau dikoreksi. Apapun yang sudah kita ucapkan, jangan mau dikoreksi oleh beliau. Beliau akan senantiasa mengoreksi omongan kita untuk memastikan bahwa beliau masih di atas angin. Kalau beliau berada di atas angin, maka beliau bisa menunda bahkan menolak untuk mengikuti keinginan kita. Oleh karena itu, apapun koreksi yang dilakukan, kita harus tetap pada apa yang sudah kita ucapkan dan tidak mengikuti koreksi yang dia berikan. Bertahan pada apa yang sudah kita ucapkan itu memperlihatkan bahwa kita kuat dan tidak bisa dilecehkan.
5. Selama pembicaraan, selalu berbicara dengan tegas. Kurangi penggunaan kata-kata yang tidak penting. Bila ditanya, perhatikan pertanyaannya. Kalau pertanyaan tersebut sudah pernah kita jawab, jangan diulangi lagi. Cukup ucapkan sekali. Bila perlu diulang, jangan langsung mengulang. Tunda ucapan sambil menatap tajam ke keningnya beberapa saat, baru setelah itu ulangi apa yang perlu kita ulangi dan ulangi dengan singkat dan jelas.
Jangan lupa, setiap kata yang keluar dari mulut kita, sertai dengan getaran rasa yang menekan.
MENGAKHIRI PEMBICARAAN
Setelah urusan selesai, segera berdiri dan tinggalkan ruangan. Jangan berikan kesempatan kepada beliau untuk bertingkah lagi. Segera kumpulkan semua berkas yang ada, ucapkan terima kasih dan segera berdiri dan berlalu.
Demikianlah aku melakukannya pada kesempatan pertama aku menghadap beliau. Walaupun tidak 100% sempurna, tapi aku menyaksikan sendiri bahwa beliau tidak berkutik sama sekali. Beliau tidak bisa bertingkah di hadapanku, tapi langsung menandatangani tagihan tersebut. Sesekali terlihat bahwa beliau mencoba untuk bertingkah, tapi aku tidak terpengaruh sama sekali.
Ketika aku meninggalkan ruangan, aku sempat melihat ke wajah beliau dan wajah itu memperlihatkan sorotan seperti orang kaget dan sedikit ada rasa takut di wajahnya. Sepertinya, teknik menyalin kepribadian ini memang berjalan dengan baik.
Terima kasih Gusti Pangeran Yang Mulia Haris yang sudah memperkenalkan teknik ini kepadaku.
Minggu, 09 Mei 2010
Langganan:
Postingan (Atom)