Salam Sirnagalih,
Melihat perbincangan di milis ini dalam 3 hari terakhir ini, saya
jadi teringat bahwa "baik atau buruk, benar atau salah, saya lah yang
menentukannya".
Bagi saya, segala sesuatu yang terjadi di luar diri saya senantiasa
bersifat netral. Tidak baik dan tidak buruk, tidak benar dan tidak
salah. Siapa yang membuat kejadian itu menjadi baik atau buruk, benar
atau salah ..? Yaaa .. diri saya sendirilah yang menentukannya.
Kadang kala, pada saat kondisi diri lagi tidak bagus, maka saya
melihat segala kejadian itu menjadi sesuatu yang salah dan buruk.
Maka, saya pun mengambil sikap yang cenderung negatif untuk
menanggapinya. Kadang kala, pada saat kondisi diri lagi bagus, maka
segala kejadian itu terlihat baik dan benar. Lalu, saya pun mengambil
sikap yang cenderung positif untuk menanggapinya. Dan, kadang kala,
saya justru tidak memilih. Saya pengen tetap tenang, tidak
terpengaruh ke manapun.
Di Sirnagalih, kita sudah diberitahu oleh Guru bahwa baik dan buruk
adalah hasil pikiran kita, datang dari pikiran kita. Buah pikiran
itulah yang kemudian menjadi dasar dari tindakan kita untuk
menanggapi kejadian itu. Jadi, bagaimana cara seseorang menanggapi
suatu kejadian, dari situlah kita bisa menilai bagaimana dia
memandang kejadian itu.
Pada akhirnya, sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa setiap
kejadian itu tidak lah baik dan juga tidak buruk, tidaklah benar dan
juga tidak salah. Yang membuatnya salah atau benar adalah pikiran
saya. Yang membuatnya buruk atau baik adalah pikiran saya. Kalau saya
bisa mengendalikan pikiran saya agar tetap ajeg, maka saya akan tegar
dan tidak terombang - ambing. Kalau saya tidak terombang - ambing,
maka saya bisa melihat setiap kejadian secara berimbang, baik dari
sisi positif nya maupun dari sisi negatifnya.
Demikian jugalah yang saya lihat terjadi dalam milis ini selama 3
hari terakhir ini. Tentang pembatasan peserta lek-lekan, apakah baik
atau buruk, benar atau salah ..? Bagi saya, pembatasan itu tidak
baik dan tidak buruk. Pembatasan itu hanya perwujudan dari apa yang
saya kenal sebagai 'Rahman Rahim'.
Sama halnya dengan percakapan mas Djoko dan mbak Ingga soal uang.
Apakah menyumbang dengan uang itu benar atau salah ..? Bagi saya,
menyumbang uang itu tidak baik dan tidak salah. Hal itu hanya
merupakan perwujudan dari apa yang saya kenal sebagai "Rahman Rahim".
Jadi, kalau semuanya berasal dari satu, kenapa kita harus
berselisih..?
Tapi, yaaa ... itu kan cuma pendapat dan teori saya. Apakah memang
benar demikian adanya ..? Entahlah ... saya juga tidak tahu, karena
saya juga sedang belajar. Jadi, mohon dimaafkan kalau ada sesuatu
yang salah dan tidak pada tempatnya.
Salam,
Antonius Suryajaya