Salam Sirnagalih,
Kata 'pasrah' digunakan orang untuk mewakili suatu kondisi penyerahan
diri kepada suatu kekuatan di luar dirinya. Dalam banyak kejadian,
kita menggunakan kata 'pasrah'. Pemerintah kitapun selalu menggunakan
kata 'pasrah' untuk memancing rasa 'ketidakmampuan' kita menghadapi
berbagai kenyataan di dalam masyarakat kita saat ini.
Tapi, apakah benar kita 'pasrah' atau cuma sekedar menjadi pihak
yang 'kalah' ..?
Guru selalu mengingatkan kita bahwa di tingkat kesadaran rendah,
manusia harus banyak membuktikan dirinya, sehingga mampu menguasai
diri, menguasai hidup, dan menguasai alam sekeliling. Pengetahuan dan
pengalaman itulah yang kemudian akan menjadi 'bahan bakar' bagi dia
untuk naik ke tingkat kesadaran manusiawi, di mana kita akan
menyadari diri kita secara utuh sebagai seorang manusia.
Jadi, apa bedanya 'pasrah' di tingkat kesadaran rendah dengan pasrah
di tingkat kesadaran manusiawi ..?
'Pasrah' di tingkat kesadaran rendah dipakai untuk menggambarkan
suatu situasi di mana si manusia tidak mampu melakukan apa - apa dan
terpaksa menyerah kepada kekuatan di luar dirinya. Kondisi ini lebih
cocok disebut 'takluk'.
Pasrah di tingkat kesadaran manusiawi adalah suatu kondisi di mana
dia menyerahkan segalanya justru karena dia sadar kalau dia mampu
mengubah situasi itu. Contoh: dia sadar kalau dia mampu menghentikan
hujan, tapi dia memilih untuk membiarkan sang hujan menentukan
sikapnya tanpa melakukan campur tangan pada hujan.
Nah ... yang manakah 'pasrah' yang sesungguhnya ..? Silahkan menilai
sendiri. Saya juga masih dalam tingkat belajar. Jadi, mohon dimaafkan
kalau ada yang salah.
Salam,
Antonius Suryajaya