Jumat, 27 Februari 2009

Pengalaman tirakat 2006

Salam Sirnagalih,

Kegiatan tirakat puasa bulan Februari 2006 yang lalu adalah tirakat
ke-4 bagi saya. Seperti biasa, setiap kali melakukan tirakat, ada
saja pengalaman yang berharga yang saya dapatkan.

Pada saat mengikuti tirakat pertama, saya memilih untuk mutih. Tiga
hari setelah memulai tirakat, saya langsung diuji karena harus hadir
dalam pernikahan adik kandung saya sendiri. Untuk tidak mempermalu
tuan rumah, saya tetap mengambil makanan lengkap, tapi ada sebagian
nasi putih yang tidak saya siram bumbu. Bagian itulah yang saya
makan, sementara sisanya saya suapkan ke anak saya.

Pada tirakat yang ke-4 ini, cobaan juga datang pada hari ketiga. 2
hari pertama ngerowot bisa saya lewatkan dengan aman dan tenang.
Tapi, begitu masuk hari ke-3, sebuah insiden mengakibatkan infeksi
lambung saya kambuh. Badan saya demam dan rasa nyeri yang hebat
menyerang lambung saya. Untungnya, karena makanan yang masuk tidak
bervariasi, infeksi lambung ini tidak disertai diare.

Memasuki sore hari di hari ke-3 itu, badan saya semakin demam. Tapi,
hati saya tetap bulat untuk melanjutkan tirakat. Saya sama sekali
tidak menyentuh obat apapun. Saya biarkan semuanya terjadi dan
berjalan begitu saja.

Untuk meringankan beban sakit ini, agar saya bisa tetap bekerja
seperti biasa, saya gunakan lambang penarik kuman. Saya gambar
lambangnya, lalu saya buat bola energi sampai padat sambil
membayangkan dalam bola energi itu ada banyak sekali 'bendera
bendera' lambang penarik kuman itu. Lalu, saya masukkan ke lambung
saya dan membayangkan lambung saya diselimuti oleh bola energi itu
lalu bola energi itu menyedot semua kuman yang mengakibatkan infeksi
di lambung saya. Afirmasi saya tutup dengan: "bekerjalah terus
menerus sampai semua kuman penyebab infeksi di lambung saya habis
tersedot semuanya".

Untuk menahan rasa sakit dan mengendalikan demam, saya gambar
lambang pengendali rasa sakit dan saya masukkan ke batang otak saya.
Tidak lama kemudian, rasa nyeri di lambung dan demam saya mereda.
Tinggal kepala saja yang masih tetap berat seperti layaknya orang
terserang demam tinggi.

Sekitar setengah jam kemudian, saya gambar lagi lambang regenerasi
sel dan saya masukkan ke lambung saya untuk melakukan regenerasi
sel - sel yang telah dirusak oleh kuman penyebab infeksi.

Begitulah waktu berjalan, saya tetap bertahan dengan tirakat saya
dan tidak mau menyentuh obat apapun. Yang gelisah justru istri saya.
Setiap saat dia memaksa saya untuk minum obat. Pokoknya, sebel deh.
Cuma, karena lagi tirakat, saya juga harus belajar mengendalikan
diri agar tidak terlepas emosi.

Akhirnya, pada hari kedua, di pagi hari saat bangun tidur, tubuh
saya terasa segar bugar kembali. Infeksi lambung itu telah berlalu.
Inilah kali pertama saya bisa melewatkan saat - saat sakit karena
infeksi lambung tanpa sebiji obatpun masuk ke dalam diri saya.
Benar - benar sebuah pengalaman yang berharga bagi saya.

Salam,
Antonius Suryajaya