Jumat, 27 Februari 2009

Ibarat mendaki gunung

Salam Sirnagalih,

Perjalanan saya di Sirnagalih bisalah saya ibaratkan dengan
perjalanan mendaki sebuah gunung.

Saya memulai pendakian dari lereng gunung. Tujuan nya adalah puncak
gunung yang menjulang tinggi di angkasa, sedemikian tingginya sampai-
sampai puncaknya tidak terlihat oleh mata.

[waduh ... belum-belum ada yang nyeletuk tuh: "pakai helikopter aja".
Eeee ... ini perumpamaan. Emang bisa pakai helikopter naik ke
kesadaran tinggi ?]

Di lereng gunung, suasananya ramai sekali. Semua orang sibuk dengan
dirinya masing - masing. Ada yang membangun rumah, ada yang jualan,
ada yang mondar-mandir, dan sebagainya. Mereka kawin dan mengawini,
sehingga ramailah suasananya. Ada juga yang sibuk mengurus kampanye
politik agar dipilih jadi pemimpin. Akh ... pokoknya, ramailah.

Lalu, dengan bantuan Guru, perlahan - lahan saya mendaki ke atas.
Guru bukan saja menunjukkan jalannya, tapi juga memberikan bekal
kepada saya agar bisa kuat naik ke atas.

Di sepanjang perjalanan, saya suka iseng mengganggu sana sini. Kadang-
kadang juga merusak. Sebagiannya saya lakukan karena saya tidak tahu
kalau perbuatan saya itu mengganggu dan merusak. Sebagian lagi
sengaja saya lakukan untuk mendapatkan bukti bahwa saya memang sedang
berjalan ke atas.

Pada ketinggian tertentu, saya berhenti untuk mencoba melihat ke
bawah. Pada saat melihat ke bawah, maka tersadarlah saya bahwa saya
mempunyai banyak kekurangan. Saya sadar bahwa saya sering berbuat
rendah. Saya sadar bahwa saya ini lemah. Dan sebagainya ...

Maka, menangislah saya, merenungkan semua perbuatan saya, merenungkan
semua kebaikan Guru, merasakan bagaimana lemah dan rapuh nya jiwa
saya, dan berharap agar Guru masih bersedia membimbing saya agar saya
bisa terus naik ke atas.

Dalam perjalanan ke atas, suasana makin lama makin sepi, sementara
saya mendapatkan semakin banyak pengalaman. Kadang kala saya merasa
capek menempuh perjalanan ini. Keramaian di bawah menggoda saya untuk
kembali ke bawah. Saya dilanda kebingungan, kebimbangan, dan keragu-
raguan. Pada saat seperti ini, tidak ada jalan lain selain melakukan
pembersihan hati lagi .. lagi .. dan lagi.

Guru pun tahu akan kondisi saya. Dia tahu kalau bekal yang saya bawa
sudah tidak cukup lagi bagi saya. Maka, Guru pun menambahkan bekal
agar saya bisa terus naik menuju puncak.

Kadang kala, saya asyik bermain - main, sehingga saya membuang -
buang waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Saya terjebak dengan
keindahan yang saya temui. Pada saat itu, Guru kembali mengingatkan
saya dan memberikan banyak kebijaksanaannya bagi saya. Guru
menasehati saya agar saya jangan terlena, jangan terjebak dengan
berbagai kesaktian yang saya alami. Tujuan saya masih jauh. Janganlah
saya terlena dengan keindahan di sepanjang perjalanan.

Begitulah perjalanan saya, yang sampai sekarang masih jauh dari
tujuan saya. Masih jauh dari puncak gunung. Saya masih bersyukur
karena saya masih diijinkan datang ke Sirnagalih, walaupun sudah
banyak sekali perbuatan rendah yang saya lakukan. Kalau sudah tidak
diijinkan lagi datang ke Sirngalih, entahlah ... mungkin saya akan
menggelinding jatuh ke bawah dan hancur berkeping - keping.

Terima kasih, Guru atas kasih sayang Mu yang demikian besar. Setiap
kali bertemu dengan Guru, saya bisa merasakan bagaimana besarnya
kasih sayang itu, menenggelamkan keangkuhan dan kesombongan saya.
Semoga saya masih diijinkan datang ke Sirnagalih untuk mendapatkan
bimbingan Mu. Terima kasih ... terima kasih ... terima kasih ...

Salam,
Antonius Suryajaya