Selasa, 14 Juli 2009

Kita semua adalah esa

Manusia adalah fisik yang menyatu dengan roh dan roh yang menyatu dengan fisik. Ketika roh masih menyatu dengan fisik, maka manusia itu dikatakan hidup dan memiliki kehidupan. Ketika roh berpisah dari fisik, maka manusia itu kehilangan kehidupannya alias mati.

Kalau kita renungkan, fisik manusia itu muncul dari bumi, lalu dia tumbuh dan berkembang dari bumi, sampai akhirnya dia layu, mati, dan kembali ke bumi. Semua manusia akan mengalami hal yang sama. Tidak ada satupun yang menjalani hal yang berbeda.

Lalu, kalau kita renungkan aspek roh manusia, maka kita tahu bahwa roh itu berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Sang Maha Pencipta. Ada yang menyebut sumbernya itu sebagai Tuhan, ada yang menyebutnya Gusti, ada pula yang menyebutnya dengan God, dan berbagai macam sebutan lainnya, yang pada dasarnya mengacu pada satu hal yang sama. Bermacam - macam nama tapi mengacu ke satu objek yang sama.

Jadi, kalau kita renungkan dengan hati yang terbuka, maka kita akan mengerti bahwa semua manusia itu berasal dari satu sumber yang sama. Fisiknya sama-sama dari bumi dan rohnya sama-sama dari Sang Maha Pencipta.

Lalu, kenapa manusia mengenal perbedaan ..? Kenapa manusia saling membedakan satu sama lain ..? Bahkan mereka saling bermusuhan satu sama lain ..?

Ibarat sebatang pohon yang rindang, memiliki ribuan cabang dan puluhan ribu ranting. Pohon itu bertumbuh dari satu akar yang sama dengan satu pokok atau batang pohon yang sama. Dari batang pohon itu kemudian muncullah cabang. Dari cabang kemudian muncullah dahan, dan dari dahan muncullah ranting.

Ranting yang satu hanya mengenal ranting yang ada di sekitarnya saja tapi dia tidak mengenal ranting yang nun ada jauh di sana. Karena dia tidak mengenal ranting yang jauh, lalu dia merasa asing dengan ranting yang jauh itu. Rasa asing itu membuat dia senang mencari perbedaan antara dirinya dengan ranting yang lain. Kesenangan mencari perbedaan itu kemudian membuat dia lupa bahwa mereka sebenarnya berasal dari satu akar dan satu batang yang sama.

Maka, timbullah pengelompokan di antara para ranting. Hasilnya, perbedaan antara mereka semakin jelas. Warna mereka yang semula sama sekali tidak terlihat perbedaannya, sekarang mereka mulai membedakan warna kulit. Ukuran daunnya yang semula tidak menjadi masalah bagi mereka, sekarang menjadi salah satu perbedaan di antara mereka. Goyangan mereka yang semula juga tidak menjadi masalah bagi mereka, sekarang mereka jadikan sebagai perbedaan di antara mereka. Pokoknya, segala hal yang ada pada diri mereka, yang semula tidak menjadi masalah bagi mereka, sekarang menjadi salah satu sumber perbedaan di antara mereka.

Mereka benar - benar telah melupakan asal muasal mereka. Mereka lupa akan jati diri mereka. Pikiran mereka telah dipenuhi dengan perbedaan.

Begitulah manusia. Diciptakan dari yang satu, tunggal, dan esa, tapi kemudian saling membedakan satu sama lain. Alhasil, mereka lupa akan asal muasal mereka, mereka lupa akan jati diri mereka, dan mereka asyik dengan perbedaan yang mereka ciptakan sendiri.

Akan tetapi, kalau kita mau duduk merenung, mencari kembali jati diri kita yang sebenarnya, maka kita akan menemukan bahwa pada dasarnya semua manusia itu berasal dari satu sumber yang sama, satu akar yang sama, satu pokok yang sama, dan pada saatnya nanti ke sanalah kita semua akan kembali.

Pada akhirnya, tidak ada lagi kata 'kamu', 'dia', 'mereka', 'kalian'. Yang ada hanyalah kata 'kita'.

Ya benar, kita semua adalah satu, tunggal, dan esa adanya. Oleh karena itu, kita semua diajarkan untuk saling mengasihi satu sama lain. Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Karena pada dasarnya, sesamamu itu adalah dirimu juga karena semuanya berasal dari satu akar dan satu pokok yang sama.